Jakarta (buseronline.com) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkap strategi utama di balik keberhasilan percepatan swasembada pangan nasional. Ia menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil dari langkah terukur dan reformasi menyeluruh di sektor pertanian.
Dilansir dari laman Kementan, target
swasembada pangan yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun, berhasil dipercepat menjadi hanya satu tahun melalui transformasi besar yang dijalankan Kementerian Pertanian.
Pada awal pemerintahan, sektor pertanian dihadapkan pada berbagai tantangan serius, seperti keterbatasan pupuk, kerusakan jaringan irigasi hingga sekitar 60 persen, serta distribusi sarana produksi yang belum optimal.
Menjawab kondisi tersebut, pemerintah melakukan reformasi besar-besaran dari hulu hingga hilir. "Kenapa produksi kita tinggi? Kenapa bisa stok kita tinggi? Tidak sesederhana yang kita bayangkan," ujar Amran, Selasa.
Salah satu langkah utama adalah reformasi kebijakan dengan menyederhanakan ratusan regulasi. Pemerintah telah menerbitkan sedikitnya 16 Peraturan Presiden (Perpres) dan Instruksi Presiden (Inpres) untuk mempercepat produksi dan distribusi pangan serta memperkuat koordinasi lintas sektor.
Di sektor pupuk, pemerintah memangkas 145 aturan yang sebelumnya melibatkan banyak pihak. Kini distribusi dipercepat melalui jalur langsung dari Kementerian Pertanian ke PT Pupuk Indonesia sebelum disalurkan ke petani.
Selain itu, alokasi pupuk ditingkatkan menjadi 9,55 juta ton dengan penurunan harga sekitar 20 persen. Pemerintah juga melakukan realokasi anggaran sebesar Rp3,8 triliun dari belanja non-prioritas ke sektor produktif seperti irigasi, benih unggul, pompanisasi, serta alat mesin pertanian.
Upaya intensifikasi dilakukan melalui penggunaan benih unggul dengan produktivitas mencapai 8-10 ton per hektare, pemupukan tepat waktu, serta pompanisasi yang menjangkau sekitar 500 ribu hektare lahan. Program ini turut meningkatkan indeks pertanaman hingga dua sampai tiga kali dalam setahun.
Selain itu, optimalisasi lahan rawa seluas 800 ribu hektare dan pencetakan sawah baru sekitar 200 ribu hektare semakin memperkuat produksi nasional. Infrastruktur pertanian juga diperkuat melalui pembangunan dan revitalisasi 61 bendungan serta perbaikan jaringan irigasi.
Modernisasi pertanian menjadi bagian penting strategi, dengan pemanfaatan alat dan mesin pertanian, drone, serta teknologi presisi. Langkah ini disebut mampu menekan biaya produksi hingga 50 persen dan meningkatkan hasil panen hingga dua kali lipat.