Jakarta (buseronline.com) - Ketegangan geopolitik global akibat konflik di Timur Tengah kian memicu kekhawatiran terhadap stabilitas pangan dunia.
Dilansir dari laman Kementan, gangguan jalur logistik, eskalasi konflik, hingga ketidakpastian perdagangan internasional berpotensi menekan pasokan dan mendorong lonjakan harga pangan global. Sejumlah negara mulai mengambil langkah antisipatif.
Rusia, misalnya, menyerukan pembentukan cadangan pangan bersama negara-negara BRICS guna menghadapi potensi krisis yang semakin meningkat. Di tengah situasi tersebut, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang kuat di sektor pangan.
Baca Juga: Tantangan Pembiayaan Iklim Global Disorot Wamenkeu Thomas di Forum BRICS
Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai 4,7 juta ton tertinggi sepanjang sejarah dan diproyeksikan segera menembus 5 juta ton.
Selain cadangan pemerintah, ketersediaan beras di pasar domestik serta sektor hotel, restoran, dan katering (HoReCa) mencapai sekitar 12 juta ton. Sementara itu, produksi dari standing crop diperkirakan terus menopang pasokan hingga akhir tahun.
Dengan tiga lapisan ketersediaan tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga kecukupan pangan nasional hingga 11 bulan ke depan.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya menegaskan pentingnya swasembada pangan sebagai kunci kemandirian bangsa, terutama dalam menghadapi krisis global.
"Dengan swasembada pangan, kita aman. Kita tidak boleh lagi bergantung pada sumber dari luar negeri," ujarnya dalam Sidang Kabinet Paripurna Januari 2025.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa langkah penguatan cadangan pangan telah dilakukan jauh sebelum tekanan global meningkat, sesuai arahan Presiden.
"Sejak awal, Bapak Presiden sudah menekankan pentingnya swasembada dan penguatan cadangan pangan. Ini menjadi langkah strategis untuk menghadapi situasi global yang penuh ketidakpastian," kata Amran.
Ia menambahkan, posisi cadangan pangan saat ini mencerminkan kesiapan Indonesia dalam menghadapi berbagai skenario krisis global.
"Cadangan kita saat ini 4,7 juta ton dan terus menuju 5 juta ton. Dengan posisi ini, kebutuhan pangan kita cukup hingga 11 bulan ke depan," tegasnya.