Jakarta (buseronline.com) - Ketahanan sektor pertanian nasional kembali menunjukkan kinerja positif di tengah dinamika global, termasuk potensi gangguan distribusi pupuk dunia akibat konflik di Selat Hormuz. Dilansir dari laman Kementan, pemerintah memastikan stok pupuk nasional dalam kondisi aman dan distribusi kepada petani tetap berjalan lancar.
Keberhasilan ini merupakan hasil dari kebijakan strategis di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto yang diimplementasikan oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bersama jajarannya, serta dukungan penuh Komisi IV DPR RI.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi pasokan pupuk nasional. Ia menyebut, ekosistem pangan Indonesia saat ini berada dalam kondisi aman dan terkelola dengan baik. Pernyataan tersebut disampaikan Rahmad dalam Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi IV DPR RI, Selasa.
Menurut Rahmad, pemerintah telah melakukan reformasi besar dalam tata kelola pupuk sejak 2025 melalui Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025 dan Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025. Kebijakan deregulasi tersebut mempermudah distribusi pupuk kepada petani dengan memangkas rantai birokrasi yang sebelumnya panjang.
Selain itu, kebijakan revitalisasi industri memungkinkan peningkatan efisiensi produksi pupuk nasional. Dampaknya, harga pupuk mengalami penurunan hingga 20 persen pada tingkat Harga Eceran Tertinggi (HET), sehingga lebih terjangkau bagi petani.
Kemudahan akses dan penurunan harga tersebut mendorong peningkatan penyerapan pupuk sepanjang 2025 hingga 2026. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan produksi pertanian nasional, yang juga tercermin dari meningkatnya serapan gabah oleh Badan Urusan Logistik (Bulog).
Dari sisi ketersediaan, Rahmad memastikan stok pupuk nasional saat ini mencapai 1,29 juta ton dengan seluruh pabrik beroperasi optimal. Kondisi ini diyakini mampu menjaga stabilitas pasokan di tengah ketidakpastian global.
Ia juga menyoroti pentingnya Selat Hormuz sebagai jalur distribusi sekitar 30 persen perdagangan pupuk dunia. Meski demikian, Indonesia tidak terdampak signifikan berkat kemandirian industri pupuk yang telah dibangun sejak era Soeharto.
Sejumlah negara seperti Brasil, India, Australia, Thailand, dan Amerika Serikat mulai merasakan dampak gangguan pasokan pupuk global. Namun Indonesia tetap dalam kondisi stabil dan bahkan berpotensi menjadi penopang ekosistem pangan global.
Di sisi lain, PT Pupuk Indonesia juga mendapat penugasan untuk mendukung transisi energi menuju B50 melalui pembangunan dua pabrik metanol di Lhokseumawe dan Bontang. Proyek ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor metanol nasional.
Rahmad menegaskan bahwa pupuk merupakan input krusial dalam meningkatkan produktivitas pertanian. Ia menyebut subsidi pupuk sebagai subsidi produksi yang berdampak langsung terhadap peningkatan hasil pertanian sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.
"Peningkatan serapan pupuk akan berbanding lurus dengan produktivitas pertanian. Hal ini juga berperan penting dalam menjaga inflasi tetap terkendali," pungkasnya. (R)