Jakarta (buseronline.com) - Ketegangan geopolitik dunia, termasuk konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi serta pasokan energi global.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia memilih memperkuat fondasi domestik dengan mempercepat agenda swasembada pangan dan energi berbasis sumber daya nasional.
Strategi tersebut tidak hanya bertumpu pada komoditas utama seperti minyak sawit, tetapi juga membuka peluang bagi komoditas lain, seperti singkong, sebagai bahan baku energi masa depan.
Dengan basis produksi yang kuat serta pasar ekspor yang tetap berjalan, Indonesia dinilai memiliki bantalan ekonomi yang cukup kokoh dalam menghadapi gejolak global.
Salah satu komoditas yang menjadi penopang utama adalah minyak sawit. Pada 2025, produksi crude palm oil (CPO) nasional mencatatkan peningkatan signifikan.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, Eddy Martono, menyebut produksi sawit Indonesia tahun lalu mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Produksi sawit kita tahun 2025 ada kenaikan dari CPO sekitar 51 juta ton atau secara total dengan PKO mencapai sekitar 56 juta ton,” kata Eddy, Rabu.
Data menunjukkan produksi CPO Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 51,6 juta ton, meningkat sekitar 7,5 persen dibandingkan 2024 yang berada di angka 48,16 juta ton.
Kenaikan tersebut didukung oleh kondisi cuaca yang relatif baik sepanjang tahun serta harga sawit yang cukup tinggi sehingga petani lebih intensif merawat kebun mereka.
Di sisi pasar global, permintaan ekspor juga masih menunjukkan tren positif. Sepanjang 2025, volume ekspor sawit Indonesia tumbuh sekitar 9,5 persen, dari 29,5 juta ton menjadi 32,3 juta ton.
Harga minyak sawit yang lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lainnya menjadi salah satu faktor pendorong utama.
Meski konflik global turut memicu lonjakan biaya logistik dan asuransi pengiriman hingga sekitar 50 persen, ekspor sawit Indonesia hingga kini masih berjalan.
“Dengan perang dan kondisi global seperti ini kita bersyukur sawit masih berjalan. Ekspornya masih berjalan walaupun terjadi kenaikan biaya logistik dan asuransi yang luar biasa, sekitar 50 persen,” ungkap Eddy.
Menurutnya, meskipun terdapat indikasi penurunan permintaan baru akibat meningkatnya biaya transportasi, kontrak ekspor yang telah berjalan tetap dipenuhi dan pengiriman masih berlangsung ke berbagai negara tujuan utama seperti India dan China.
Di dalam negeri, konsumsi sawit juga terus meningkat, terutama untuk kebutuhan energi melalui program biodiesel. Pada 2025, konsumsi domestik mencapai sekitar 24,7 juta ton, meningkat 3,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara konsumsi biodiesel sendiri mencapai sekitar 12,7 juta ton atau meningkat sekitar 10,9 persen.
Dilansir dari laman Kementerian Pertanian RI, program biodiesel menjadi bagian penting dari strategi Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil impor.
Saat ini implementasi program berada pada bauran B40, dengan rencana peningkatan ke tingkat yang lebih tinggi seperti B50 dalam jangka panjang.
Eddy menilai peningkatan program biodiesel harus diiringi dengan peningkatan produksi sawit agar tidak mengganggu keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor.
“Menteri Pertanian meminta agar kita meningkatkan produktivitas untuk meningkatkan produksi. Program pemerintah menuju swasembada energi, khususnya biodiesel, hanya bisa dicapai jika produksi terus ditingkatkan,” ujarnya.
Selain sawit, pemerintah juga mulai mengoptimalkan komoditas lain sebagai sumber energi alternatif, salah satunya singkong. Komoditas ini diproyeksikan menjadi bahan baku bioetanol untuk mendukung bauran energi nasional.
Ketua Umum Masyarakat Singkong Indonesia, Arifin Lambaga, menyebut potensi singkong Indonesia sangat besar untuk mendukung ketahanan energi nasional.
“Karena kita tahu sekarang risiko kekurangan energi cukup besar akibat konflik di Timur Tengah. Oleh karena itu pemerintah ingin semua potensi yang bisa memproduksi energi dioptimalkan,” kata Arifin.
Saat ini produksi singkong nasional mencapai sekitar 14 juta ton per tahun. Dengan peningkatan produktivitas serta penggunaan varietas unggul, angka tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan secara signifikan.
Arifin menjelaskan kebutuhan bioetanol nasional untuk campuran bahan bakar mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter per tahun. Jika seluruh kebutuhan tersebut dipenuhi dari singkong, maka diperlukan sekitar 10 juta ton singkong segar.
“Konversinya rata-rata untuk satu liter bioetanol membutuhkan antara lima sampai tujuh kilogram singkong segar,” jelasnya.
Kementerian Pertanian Republik Indonesia saat ini juga mendorong pelaku industri serta petani untuk menyiapkan rencana produksi agar komoditas singkong dapat menjadi bagian dari ekosistem energi nasional.
“Kami diminta membuat perencanaan produksi singkong yang kemudian dikonversi menjadi bioetanol,” imbuh Arifin.
Dengan kekuatan pada sektor pangan, energi nabati, serta basis produksi komoditas yang besar, Indonesia dinilai memiliki posisi strategis dalam menghadapi ketidakpastian global.
Ketika konflik geopolitik mengganggu rantai pasok energi dan pangan dunia, kekuatan sumber daya domestik menjadi benteng utama dalam menjaga stabilitas nasional.
Langkah memperkuat swasembada pangan dan energi pun menjadi strategi jangka panjang Indonesia untuk memastikan ekonomi nasional tetap tangguh, bahkan di tengah tekanan geopolitik global yang semakin kompleks. (R)