Kudus (buseronline.com) - Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri 2026, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Menteri Perdagangan RI Budi Santoso memantau kondisi harga dan pasokan kebutuhan pokok di Pasar Baru Kudus, Kabupaten Kudus, Kamis.
Pemerintah memastikan harga bahan pokok tetap terkendali serta pasokan pangan dalam kondisi aman menjelang Lebaran.
Didampingi Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, rombongan menyusuri lorong-lorong pasar dan berhenti di sejumlah lapak untuk menanyakan harga berbagai komoditas kepada pedagang, mulai dari daging ayam, daging sapi, beras, minyak goreng hingga telur.
“Harga dagingnya berapa, Bu?” tanya Mendag saat berdialog dengan salah seorang pedagang.
“Alhamdulillah masih standar, Rp140 ribu untuk daging kerbau dan sapi. Tapi saat ini sapi agak susah,” ujar Rina, salah seorang pedagang di pasar tersebut.
Ia mengatakan harga komoditas daging mulai mengalami kenaikan sejak awal tahun. Meski demikian, para pedagang berharap pasokan tetap tersedia menjelang Lebaran.
Di lapak sayur lainnya, pedagang menyebutkan harga cabai rawit merah saat ini sekitar Rp30.000 per kilogram, sementara cabai rawit setan mencapai sekitar Rp40.000 per kilogram.
Harga tersebut masih berada di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET) yang tercantum dalam papan informasi stabilisasi harga di pasar. Dalam daftar tersebut, harga acuan cabai rawit merah berada pada kisaran Rp40.000 hingga Rp57.000 per kilogram.
Sementara itu, sejumlah komoditas lain juga tercantum dalam daftar harga acuan pemerintah, di antaranya beras premium Rp14.900/kg, beras medium Rp13.500/kg, beras SPHP Rp12.500/kg, minyak goreng Minyakita Rp15.700/liter, gula pasir Rp17.500/kg, serta telur ayam ras Rp30.000/kg.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan pemantauan pasar dilakukan untuk memastikan stabilitas harga dan kecukupan pasokan bahan pokok menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Pemantauan ini kami lakukan untuk memastikan harga tetap terkendali dan pasokan mencukupi, sehingga masyarakat bisa berbelanja dengan tenang,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah memantau perkembangan harga bahan pokok melalui Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP). Melalui sistem tersebut, pemerintah dapat memantau pergerakan harga di sekitar 550 titik pasar yang tersebar di lebih dari 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
“Melalui aplikasi itu kita bisa melihat perkembangan harga setiap hari. Ketika ada kenaikan harga, ada levelnya dan kita bisa langsung menentukan langkah intervensi,” kata Budi.
Meski demikian, menurutnya pengecekan langsung ke pasar tetap penting dilakukan untuk memastikan kondisi harga serta ketersediaan barang secara nyata di lapangan.
“Kita tetap turun langsung ke pasar supaya tahu kondisi sebenarnya, baik ketersediaan barang maupun perkembangan harganya,” tambahnya.
Ia juga menilai kunjungan langsung ke pasar dapat membantu menjaga stabilitas harga di tingkat pedagang.
“Kalau kita datang langsung ke pasar, secara psikologis juga membantu para pedagang untuk menjaga harga agar tetap terkendali,” ujarnya.
Sementara itu, dilansir dari laman Jatengprov, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar tradisional agar masyarakat tetap dapat memperoleh bahan pokok dengan harga yang terjangkau.
“Kita akan melakukan intervensi apabila harga bahan pokok mengalami kenaikan,” tegasnya.
Pemantauan harga dan pasokan bahan pokok ini menjadi bagian dari upaya pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga stabilitas ekonomi jelang perayaan Idulfitri, sekaligus memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi. (R)