Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat menyelenggarakan Program Inkubasi Industri Kecil Menengah (IKM) 2026, bekerja sama dengan akademisi, guna memperkuat kesiapan IKM lokal bersaing di pasar nasional maupun global.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jabar, Nining Yuliastiani, menyampaikan bahwa sebanyak 200 IKM terpilih akan mengikuti program inkubasi ini.
Pendaftaran dibuka secara daring mulai 26 Februari hingga 17 Maret 2026 melalui tautan resmi https://bit.ly/LinkPendaftaranIKMIstimewa.
Selama masa inkubasi tiga bulan, peserta akan mendapatkan pendampingan intensif, mulai dari diagnosis kesehatan bisnis, kelas manajemen usaha, strategi pemasaran, branding, hingga penyusunan pitching deck.
Peserta juga berkesempatan mengikuti pelatihan eksklusif bersama praktisi bisnis dan akademisi dari Science Techno Park (STP) Direktorat Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi Universitas Indonesia (UI).
Selain itu, fasilitasi sertifikasi seperti Halal, HAKI Merek, dan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) disiapkan bagi IKM yang membutuhkan. Program ini bertujuan meningkatkan standar kualitas, daya saing, serta kesiapan ekspor produk IKM Jawa Barat.
Program Inkubasi IKM 2026 diawali dengan gelar wicara secara daring pada Kamis. Acara menghadirkan Nining Yuliastiani, CEO PT Sainsgo Karya Indonesia (Maskit) Yolla Miranda, serta Direktur STP UI Chairul Hudaya sebagai narasumber. Para peserta terdiri dari pelaku IKM se-Jawa Barat, asosiasi, serta perwakilan Disperindag kabupaten/kota.
Dalam pemaparannya, dilansir dari laman Jabarprov, Nining menyoroti tantangan yang masih dihadapi IKM, termasuk kesenjangan kapasitas dan standar kualitas, keterbatasan sumber daya, serta rendahnya daya saing terhadap produk impor.
“Kami ingin IKM di Jabar tidak hanya bertahan, tetapi naik kelas dan mampu mengakses pasar yang lebih luas. Melalui kerja sama dengan STP UI, kami berharap IKM dapat terfasilitasi secara lebih terstruktur, baik dalam hal standardisasi, sertifikasi, hingga kesiapan ekspor,” ujar Nining.
Ia menegaskan bahwa pengembangan IKM harus lebih dari sekadar promosi produk. “Produk IKM harus bisa masuk dalam rantai pasok industri dan menjadi bagian dari value chain lokal yang mampu menggantikan bahan impor. Tantangan terbesar kita saat ini adalah aspek keberlanjutan dan keberanian untuk terus berkembang,” tegas Nining.
Pemprov Jabar secara konsisten memberikan fasilitasi standardisasi setiap tahun melalui dukungan pemerintah daerah maupun pusat.
Program inkubasi ini juga akan memperkuat kapasitas manajerial pelaku IKM, mendorong digitalisasi keuangan, dan membuka peluang akses kepada investor, sehingga pelaku IKM dapat bersaing lebih profesional dan berdaya saing tinggi di pasar global. (R)