Brussel (buseronline.com) - PT Pertamina (Persero) mempertegas langkah strategisnya dalam membangun ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang terverifikasi secara global dan siap merambah pasar internasional, termasuk kawasan Eropa dan Asia-Pasifik.Upaya ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam mengakselerasi dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus memposisikan Indonesia sebagai pemain strategis dalam transisi energi global.Komitmen tersebut disampaikan Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, dalam diskusi panel internasional bertajuk Behind the Blend: The Producers Making Net-Zero Aviation Possible pada ajang ISCC Global Sustainability Conference 2026 di Brussel, Belgia, Jumat.Dalam forum tersebut, Pertamina berbagi panggung dengan produsen SAF global seperti Neste, EcoCeres, dan Montana Renewables.“Forum ini mempertemukan produsen SAF global, pelaku industri penerbangan, dan pemangku kepentingan keberlanjutan dunia. Kehadiran Pertamina di forum ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga bagian dari solusi global dalam dekarbonisasi sektor penerbangan. Kami siap memasuki pasar global melalui SAF,” ujar Agung.Menurutnya, Pertamina sebagai Soko Guru Energi Nasional berperan aktif menekan emisi penerbangan global melalui pengembangan SAF berbasis limbah.Kehadiran perusahaan dalam forum internasional tersebut sekaligus menegaskan pengakuan global atas kapasitas Indonesia sebagai produsen SAF berbasis limbah yang kredibel dan kompetitif.“Di luar pasar domestik, kami menargetkan pasar penerbangan regional dan global, termasuk Eropa dan Asia-Pasifik. Kami siapkan SAF agar siap ekspor dan mampu bersaing, baik dari sisi spesifikasi teknis, keberlanjutan, maupun standar global,” tambahnya.Pertamina memastikan seluruh rantai nilai SAF telah tersertifikasi International Sustainability and Carbon Certification (ISCC), mulai dari pengumpulan bahan baku, proses pemurnian (refining), hingga penyimpanan dan distribusi.Sertifikasi ini menjamin ketelusuran, mencegah penghitungan ganda, serta memenuhi standar keberlanjutan dan akuntansi karbon internasional.Pengembangan SAF di Pertamina dilakukan melalui teknologi co-processing menggunakan minyak jelantah (used cooking oil/UCO) di fasilitas Green Refinery Cilacap, dengan kandungan campuran sekitar 2,4 persen.Perjalanan pengembangan bioavtur tersebut telah dimulai sejak 2015 melalui penelitian katalis domestik dan uji teknis pada pesawat Airbus A320-200 milik Pelita Air Services.“Kami telah menyelesaikan validasi teknis di berbagai jenis pesawat, termasuk pesawat jet komersial dengan maskapai Pelita Air Services. Pelita Air telah mencoba menggunakan SAF untuk penerbangan domestik dan internasional. Hal ini menunjukkan kesiapan operasional end-to-end dalam ekosistem kami,” paparnya.Saat ini, Pertamina tengah melakukan ekspansi skala komersial melalui proyek Biorefinery Cilacap Fase 2 yang ditargetkan mulai beroperasi (on stream) pada 2029.Peningkatan kapasitas tersebut diarahkan untuk mendukung kebijakan mandatori campuran SAF satu persen untuk penerbangan internasional dari Indonesia mulai 2027, sekaligus membuka peluang ekspor ke pasar Asia-Pasifik dan Eropa.Agung menekankan, dilansir dari laman Pertamina, tantangan utama pengembangan SAF global bukan lagi pada teknologi, melainkan pada ketersediaan bahan baku berkelanjutan. Indonesia dinilai memiliki potensi besar dari limbah seperti UCO dan residu POME (Palm Oil Mill Effluent) yang dapat menjadi sumber pasokan SAF global tanpa bersaing dengan kebutuhan pangan.“Pasar wajib memberikan kepastian permintaan struktural untuk jangka panjang, sementara voluntary market mempercepat adopsi dan inovasi. Kuncinya ada pada regulasi yang jelas, sistem sertifikasi yang kuat, dan harmonisasi standar internasional,” tegasnya.Melalui pengembangan SAF, Pertamina menegaskan perannya tidak hanya dalam menurunkan emisi sektor penerbangan, tetapi juga memperkuat ketahanan energi nasional, menciptakan nilai ekonomi domestik, serta mempercepat kolaborasi global menuju penerbangan rendah karbon.Sebagai perusahaan pemimpin transisi energi, Pertamina berkomitmen mendukung target Net Zero Emission 2060 dan mendorong pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) melalui penerapan prinsip Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh lini bisnis dan operasional perusahaan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting