Garut (buseronline.com) - Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mendorong percepatan pembangunan dan lonjakan ekonomi di wilayah Garut bagian selatan melalui pengembangan jagung terintegrasi.
Arahan tersebut disampaikan kepada para kepala desa di Kecamatan Mekarmukti, Caringin, dan Bungbulang dalam agenda pembinaan pembangunan wilayah, Senin.
Bupati menegaskan bahwa wilayah Garut Selatan membutuhkan akselerasi pembangunan yang lebih cepat dibandingkan daerah lain, mengingat masih tingginya angka kemiskinan ekstrem, anak putus sekolah, serta kasus kematian ibu dan anak.
Menurutnya, kondisi sosial ekonomi tersebut tidak dapat diselesaikan dengan pola pembangunan biasa, melainkan membutuhkan strategi terarah yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Tentu saja di otak saya harus ada akselerasi, dan akselerasi itu selalu membutuhkan dana yang besar. Kita ingin ada penyerapan tenaga kerja. Tidak harus selalu industri pabrik, sektor pariwisata juga bisa menyerap tenaga kerja, termasuk hotel dan restoran,” ujar Abdusy Syakur Amin.
Ia menjelaskan bahwa sektor pertanian dan peternakan selama ini belum memberikan nilai tambah yang maksimal bagi masyarakat karena sebagian besar komoditas masih dijual dalam bentuk mentah tanpa proses hilirisasi.
Dari berbagai komoditas yang ada, dilansir dari laman Jabarprov, Bupati menilai jagung memiliki potensi strategis untuk dikembangkan secara terintegrasi, terutama karena menjadi bahan baku utama pakan ternak dan sangat dibutuhkan untuk mendukung program Makanan Bergizi Gratis dari pemerintah pusat.
“Dari sekian komoditas, saya melihat jagung ini sangat potensial. Kenapa? Karena sekarang jagung menjadi komoditas yang dibutuhkan untuk mendukung sektor-sektor lain, terutama peternakan,” jelasnya.
Ke depan, Pemerintah Kabupaten Garut berencana membangun ekosistem ekonomi terintegrasi dengan menghadirkan pabrik pakan ternak di dekat sentra produksi jagung serta kawasan peternakan ayam pedaging. Dengan pola tersebut, biaya produksi dapat ditekan sehingga harga pangan lebih terjangkau di tingkat konsumen.
“Saya lihat di Blitar sudah ada ekosistem seperti itu. Pakannya di sana, peternakannya di sana, sehingga ongkos produksi menjadi murah. Dampaknya, harga telur di Blitar lebih rendah dibanding Garut karena semuanya terintegrasi,” ungkap Abdusy Syakur Amin.
Model pengembangan jagung terintegrasi tersebut diharapkan mampu membuka lapangan kerja baru, meningkatkan pendapatan petani dan peternak, serta mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Garut agar berperan lebih besar dalam rantai pasok pangan nasional.
Sejumlah kepala desa menyambut positif gagasan tersebut karena dinilai menjawab kebutuhan riil masyarakat desa yang selama ini membutuhkan solusi konkret untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Melalui langkah percepatan pembangunan berbasis pertanian terintegrasi ini, Pemerintah Kabupaten Garut berharap pertumbuhan ekonomi di wilayah selatan dapat meningkat secara bertahap dan berkelanjutan, sekaligus menekan angka kemiskinan dan persoalan sosial lainnya. (R)