Jakarta (buseronline.com) - Diplomasi ekonomi yang dipimpin Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membuahkan hasil konkret bagi sektor pertanian nasional.
Melalui kesepakatan dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat, sebanyak 173 pos tarif (HS Code) yang mencakup 53 kelompok komoditas pertanian Indonesia beserta produk turunannya resmi dibebaskan dari bea masuk atau dikenakan tarif 0 persen di pasar Amerika Serikat.
Kebijakan strategis tersebut membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk pertanian Indonesia sekaligus meningkatkan daya saing komoditas unggulan nasional di tengah ketatnya persaingan perdagangan global.
Kesepakatan tersebut tertuang dalam kerangka Agreements on Reciprocal Trade (ART) yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Perjanjian ini menjadi bagian penting dari penguatan kemitraan ekonomi kedua negara yang dirangkum dalam kesepakatan bertajuk Toward a New Golden Age for the US–Indonesia Alliance.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, secara keseluruhan terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik dari sektor pertanian maupun industri, yang memperoleh fasilitas pembebasan bea masuk ke pasar Amerika Serikat.
“Dalam ART ini terdapat 1.819 pos tarif produk Indonesia, baik pertanian maupun industri, seperti minyak sawit, kopi, kakao, rempah-rempah, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, serta komponen pesawat terbang, yang tarifnya menjadi 0 persen,” tegas Airlangga, Jumat (20/2/2026).
Dari sektor pertanian, sejumlah komoditas strategis yang mendapatkan tarif nol persen antara lain buah-buahan tropis seperti pisang, nanas, mangga, durian, dan pepaya. Selain itu, kopi dengan enam pos tarif, teh hijau dan teh hitam, serta aneka rempah unggulan seperti lada, pala, cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, dan kunyit juga masuk dalam daftar tersebut.
Komoditas lainnya yang memperoleh pembebasan tarif meliputi kakao dan produk turunannya, minyak sawit dan palm kernel oil, buah dan inti kelapa sawit, produk olahan buah, tepung dan pati berbasis singkong dan sagu, hingga pupuk mineral berbasis kalium.
Dilansir dari laman Kementan, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan hasil negosiasi strategis yang dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto demi memperjuangkan kepentingan nasional, khususnya petani dan pelaku usaha pertanian.
“Pembebasan tarif pada puluhan komoditas pertanian ini benar-benar hasil negosiasi yang berpihak pada petani kita. Bapak Presiden menunjukkan kepemimpinan yang tegas dan diplomasi ekonomi yang kuat. Produk pertanian Indonesia kini memiliki akses yang lebih adil dan kompetitif ke pasar global,” ujar Mentan Amran.
Menurutnya, keberhasilan menembus pasar Amerika Serikat dengan tarif nol persen akan meningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia secara signifikan, terutama dari sisi harga dan volume ekspor.
“Dengan tarif nol persen, produk kita memiliki ruang bersaing yang jauh lebih besar. Harga menjadi lebih kompetitif dan peluang ekspor semakin terbuka luas bagi petani serta pelaku usaha,” jelasnya.
Mentan Amran menambahkan, Kementerian Pertanian akan memastikan peningkatan kualitas produksi, pemenuhan standar internasional, serta keberlanjutan pasokan agar peluang ekspor tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kesempatan sudah ada di depan mata. Tugas kita memastikan produksi mencukupi dan mutu terjaga, sehingga petani benar-benar merasakan manfaat dari keberhasilan diplomasi ini,” tegasnya.
Sebelumnya, dalam rangkaian Business Summit di US Chamber of Commerce, Washington DC, Indonesia dan Amerika Serikat juga menandatangani sejumlah Nota Kesepahaman (MoU) untuk memperkuat implementasi kesepakatan dagang resiprokal tersebut.
Dengan dibebaskannya 173 pos tarif sektor pertanian menjadi 0 persen, pemerintah optimistis ekspor komoditas unggulan nasional akan meningkat seiring menguatnya daya saing harga produk Indonesia di pasar Amerika Serikat, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama sektor pertanian global. (R)