Semarang (buseronline.com) - Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan pentingnya pengendalian harga pangan menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. Ia meminta seluruh kepala daerah di Jawa Tengah memastikan tidak terjadi lonjakan harga akibat distribusi tersendat maupun praktik permainan pasar.Hal tersebut disampaikan Luthfi saat menghadiri High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD), serta Koridor Ekonomi, Perdagangan, Investasi, dan Pariwisata (Keris) Jawa Tengah di Semarang, Rabu.“Tidak boleh ada sumbatan distribusi, tidak boleh ada permainan harga. BUMD harus hadir,” tegas Luthfi.Menurutnya, kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan akan meningkat signifikan selama Ramadan dan Idulfitri. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga, terutama pada komoditas strategis seperti cabai, bawang merah, beras, dan minyak goreng.“Kebutuhan masyarakat meningkat, maka potensi kenaikan harga juga meningkat. Itu harus dikendalikan oleh para bupati dan wali kota di wilayah masing-masing,” ujarnya.Sebagai langkah transparansi, Luthfi meminta setiap kabupaten/kota memasang dashboard atau papan pantau harga komoditas di pasar-pasar besar maupun pasar induk. Dashboard tersebut harus rutin diperbarui agar masyarakat dapat memantau perkembangan harga secara langsung.“Dashboard harga itu harus ada di pasar dan terus di-update. Biar masyarakat tahu, transparan, dan tidak ada permainan harga. Itu tanggung jawab pemerintah setempat,” katanya.Ia juga mengingatkan agar daerah sentra produksi tidak sampai mengalami kekurangan pasokan akibat distribusi yang tidak terkendali.“Jangan sampai daerah sentra malah kekurangan. Distribusi harus dikawal,” tegasnya.Selain pengendalian inflasi, dilansir dari laman Jatengprov, Gubernur Luthfi menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan lahan pertanian melalui percepatan penetapan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Saat ini, sekitar 1,3 juta hektare lahan pertanian di Jawa Tengah harus dipertahankan untuk menjamin ketahanan pangan.“Lahan pertanian harus kita pertahankan. Produksi pangan harus kita tingkatkan, teknologi pertanian harus kita dorong,” ujarnya.Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho menyampaikan bahwa inflasi Jawa Tengah pada Januari 2026 tercatat sebesar 2,83 persen secara tahunan (year on year/yoy), dengan deflasi 0,35 persen secara bulanan (month to month/mtm).“Inflasi Jawa Tengah masih berada dalam rentang sasaran dan relatif terjaga. Deflasi Januari terutama didorong kelompok makanan, minuman, dan tembakau, seiring masuknya masa panen dan normalisasi permintaan pasca-Nataru,” jelas Nugroho.Meski demikian, ia mengingatkan bahwa risiko kenaikan harga pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tetap perlu diantisipasi.“Secara historis, komoditas seperti beras dan aneka cabai sering menjadi penyumbang inflasi saat Ramadan dan Idulfitri. Karena itu, penguatan pasokan dan kelancaran distribusi menjadi kunci,” ujarnya.Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pun berkomitmen memperkuat koordinasi lintas daerah guna menjaga stabilitas harga dan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting