Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Rembang Catat Panen Padi Awal 2026, Produktivitas Tembus 5,8 Ton per Hektare

Dirgahayu Ginting - Jumat, 30 Januari 2026 09:00 WIB
Petani memanen padi menggunakan mesin combine harvester pada panen awal Musim Tanam I (MT1) 2026 di Kabupaten Rembang, dengan produktivitas mencapai 5,8 ton per hektare. (Dok/Jatengprov)

Rembang (buseronline.com) - Pemerintah Kabupaten Rembang mencatat capaian positif pada panen padi awal 2026 atau Musim Tanam I (MT1). Produktivitas padi mencapai rata-rata 5,8 ton per hektare dengan harga gabah di tingkat petani menembus Rp7.100 per kilogram atau melampaui Angka Pembelian Pemerintah (APP). Kondisi tersebut dinilai berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dintanpan) Kabupaten Rembang, Agus Iwan Haswanto, mengatakan capaian tersebut diperoleh dari hasil panen perdana yang dihitung melalui metode ubinan bersama penyuluh pertanian, petugas lapangan, serta Badan Pusat Statistik (BPS) sebagai dasar pengukuran produktivitas.

“Berdasarkan hasil panen awal, produktivitas padi mencapai sekitar 5,8 ton per hektare. Ini menunjukkan kondisi pertanaman cukup baik,” ujar Agus saat ditemui di kantornya, Rabu (28/1/2026).

Dari sisi harga, lanjutnya, gabah kering panen (GKP) di tingkat petani tercatat sebesar Rp7.100 per kilogram. Angka tersebut berada di atas APP yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp6.500 per kilogram. Sementara itu, harga gabah kering giling (GKG) diperkirakan lebih tinggi seiring kualitas hasil panen yang relatif baik.

Menurut Agus, dilansir dari laman Jatengprov, kualitas gabah pada MT1 tahun ini tergolong optimal. Selama masa tanam hingga panen, tidak ditemukan serangan hama dan penyakit yang signifikan. Proses pengisian bulir pun berlangsung maksimal sehingga menghasilkan gabah dengan mutu yang lebih baik.

“Kondisi tanaman relatif sehat, pengisian bulir bagus, sehingga kualitas gabah yang dihasilkan juga baik,” jelasnya.

Meski demikian, Dintanpan mencatat masih ada tantangan pada aspek pascapanen, terutama proses pengeringan gabah di tengah musim hujan. Minimnya sinar matahari membuat metode pengeringan konvensional kurang efektif dan berpengaruh terhadap proses penggilingan.

“Pengeringan gabah masih menjadi perhatian. Karena itu, ada usulan agar pemerintah ke depan dapat memfasilitasi pengadaan mesin pengering gabah untuk mendukung petani dan penggilingan padi,” ungkap Agus.

Saat ini, fasilitas mesin pengering di Kabupaten Rembang masih terbatas dan baru tersedia di beberapa wilayah, seperti Karangsari dan sejumlah titik lainnya. Sebagian besar petani masih mengandalkan penjemuran alami.

Terkait sebaran wilayah panen, Agus menyebut panen perdana MT1 belum terpusat di satu kecamatan tertentu. Dalam waktu dekat, panen diperkirakan meluas dan merata ke berbagai kecamatan di Kabupaten Rembang.

“Ini masih panen awal dan dalam waktu dekat akan menyebar ke kecamatan-kecamatan lainnya,” pungkasnya.

Dengan produktivitas yang baik serta harga gabah yang menguntungkan petani, pemerintah daerah berharap musim tanam pertama tahun ini dapat berkontribusi positif terhadap ketahanan pangan sekaligus peningkatan ekonomi petani di Rembang. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Kementan Pacu Gerakan Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi

Ekonomi

KPK Luncurkan Program “Desa Matang Pengadaan” untuk Perkuat Pencegahan Korupsi Dana Desa

Ekonomi

PSEL Medan Raya Ditargetkan Groundbreaking 2026, Olah hingga 1.700 Ton Sampah per Hari

Ekonomi

Kemendikdasmen Gelar Komitmen Bersama SPMB Ramah 2026/2027, Tekankan Akses Pendidikan Tanpa Diskriminasi

Ekonomi

Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus

Ekonomi

Pemprov Sumut Perluas Kerja Sama dengan Jepang untuk Penguatan SDM dan Tenaga Kerja