Jakarta (buseronline.com) - Perum Bulog memaparkan capaian kinerja strategis sepanjang tahun 2025 sekaligus mengumumkan langkah kebijakan utama untuk tahun 2026 dalam Konferensi Pers Awal Tahun yang digelar di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Jumat.Paparan tersebut menegaskan peran Bulog sebagai instrumen negara dalam menjaga ketahanan pangan nasional serta mendukung Asta Cita Pemerintah menuju swasembada pangan yang berkelanjutan.Dilansir dari laman Humas Perum Bulog, Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, menyampaikan bahwa tahun 2025 menjadi fase krusial dalam penguatan peran Bulog di seluruh rantai pangan nasional, mulai dari sektor hulu hingga hilir.“Tahun 2025 merupakan momentum konsolidasi peran Bulog sebagai stabilisator pangan nasional. Fokus kami jelas, melindungi petani, menjaga cadangan pangan, serta memastikan masyarakat mendapatkan akses pangan yang stabil dan terjangkau,” ujar Ahmad Rizal.Hingga 31 Desember 2025, Bulog mencatat pengadaan beras nasional setara beras mencapai 3.191.969 ton. Jumlah tersebut berasal dari penyerapan 4.537.490 ton Gabah Kering Panen (GKP), 6.863 ton Gabah Kering Giling (GKG), serta 765.504 ton beras. Capaian ini menjadi fondasi strategis dalam memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sekaligus menjaga kesinambungan produksi dan pendapatan petani.Penyerapan GKP tersebut tercatat sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Perum Bulog. Direktur Utama menegaskan, keberhasilan ini merupakan hasil kehadiran aktif Bulog di lapangan.“Kami turun langsung ke petani untuk memastikan gabah terserap dengan harga sesuai ketentuan pemerintah. Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti nyata keberpihakan negara kepada petani dan fondasi penting menuju swasembada pangan,” tegasnya.Selain beras, Bulog juga mencatat pengadaan jagung dalam negeri sebesar 101.968 ton, yang terdiri atas 101.770 ton melalui skema Public Service Obligation (PSO) dan 198 ton dari pengadaan komersial. Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas harga di tingkat produsen serta memastikan keberlanjutan pasokan jagung nasional.Dari sisi distribusi, Bulog telah menyalurkan Bantuan Pangan hampir 785 ribu ton sebagai bentuk perlindungan sosial bagi masyarakat rentan. Sementara itu, penyaluran Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) Beras mencapai 795 ribu ton dan SPHP Jagung sebesar 51.211 ton. Program ini menjadi instrumen penting dalam menahan gejolak harga serta menjaga stabilitas pasokan di tingkat konsumen.“Intervensi pasar melalui SPHP kami lakukan secara terukur dan terawasi. Tujuannya menjaga stabilitas harga tanpa merusak mekanisme pasar, sekaligus melindungi konsumen dan petani,” jelas Ahmad Rizal.Dalam upaya memperluas akses pangan terjangkau, Bulog bersama Kementerian Pertanian dan Kementerian Dalam Negeri juga menyukseskan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak di 4.337 titik di seluruh Indonesia. Atas capaian tersebut, Bulog berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI).Dari sisi kesiapan cadangan, hingga akhir 2025 stok PSO Bulog tercatat sebesar 3,25 juta ton, melanjutkan tren positif setelah sempat mencapai stok tertinggi sepanjang sejarah sekitar 4,2 juta ton pada pertengahan tahun 2025.Dalam kondisi darurat, Bulog juga menyalurkan bantuan pangan bencana sebesar 14.227 ton di wilayah Sumatra. Penyaluran tersebut mencakup Aceh sebesar 8.676 ton, Sumatera Utara 4.482 ton, dan Sumatera Barat 1.069 ton.“Ketahanan pangan juga berarti kesiapan negara hadir dalam kondisi darurat. Bulog memastikan bantuan bencana tersedia dengan cepat dan tepat sasaran,” tambahnya.Memasuki tahun 2026, Bulog menyiapkan langkah strategis utama berupa penugasan penyerapan gabah dan beras setara 4 juta ton. Penugasan ini menegaskan kepercayaan negara kepada Bulog sebagai pilar utama stabilisasi pangan nasional.“Target penyerapan 4 juta ton setara beras merupakan amanah besar. Ini adalah upaya konkret negara untuk memastikan hasil panen petani terserap optimal, harga terjaga, dan cadangan pangan nasional semakin kuat,” ujar Ahmad Rizal.Selain itu, Bulog juga merencanakan pembangunan 100 infrastruktur pascapanen guna memperkuat pengelolaan hasil pangan dari hulu ke hilir.“Penguatan infrastruktur pascapanen adalah investasi strategis. Kami ingin hasil produksi petani tidak hanya terserap, tetapi juga terjaga mutunya dan memiliki nilai tambah,” pungkasnya.Dengan capaian solid sepanjang 2025 dan langkah strategis yang terarah pada 2026, Perum Bulog menegaskan komitmennya untuk terus menjadi garda terdepan dalam menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan nasional, sejalan dengan visi besar Asta Cita Pemerintah. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting