Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Infrastruktur Jateng 2025, Desalinasi Jadi Kunci Perubahan Pesisir Jawa Tengah

Dirgahayu Ginting - Selasa, 30 Desember 2025 06:10 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama jajaran Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meninjau sekaligus menyerahkan pemanfaatan mesin desalinasi air payau kepada masyarakat pesisir dalam rangka penyediaan air bersih di Jawa Tengah, di salah satu lokasi desal
Semarang (buseronline.com) - Air laut yang selama bertahun-tahun menjadi ancaman bagi warga pesisir Jawa Tengah kini berbalik menjadi sumber harapan. Melalui program desalinasi, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil menghadirkan solusi nyata atas krisis air bersih yang selama ini membelenggu masyarakat di wilayah pesisir utara (Pantura).Di Desa Randusanga Kulon, Kabupaten Brebes, misalnya, air payau yang merembes ke sumur warga dahulu memaksa masyarakat membeli air bersih dari jarak jauh dengan harga mahal. Kini, warga dapat menikmati air minum layak konsumsi dengan mudah, murah, dan aman, bahkan untuk kebutuhan bayi.Perubahan tersebut merupakan bagian dari realisasi janji kampanye Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin pada tahun pertama kepemimpinan mereka di 2025. Enam unit mesin desalinasi dibangun di berbagai wilayah Pantura untuk mengolah air laut dan air payau menjadi air tawar siap minum.Program desalinasi ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), serta Universitas Diponegoro (Undip) Semarang sebagai pengembang teknologi.Dari enam unit yang terpasang, tiga unit dibangun langsung oleh Pemprov Jateng melalui Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya (DPU BMCK), masing-masing berlokasi di Desa Randusanga Kulon (Brebes), Desa Banjarsari Kecamatan Sayung (Demak), dan Desa Banyutowo Kecamatan Dukuhseti (Pati).Satu unit lainnya dibangun oleh BUMD Tirta Utama Jawa Tengah (TUTJ) di Rusunawa Slamaran, Kecamatan Krapyak Lor, Kota Pekalongan. Sementara dua unit tambahan dibangun di Kabupaten Demak dan Rembang melalui kolaborasi DPU BMCK dan Bank Jateng.Dilansir dari laman Diskominfo Jateng, Kepala DPU BMCK Jawa Tengah, Hanung Triyono, menyebut desalinasi sebagai solusi sederhana atas persoalan kompleks di wilayah pesisir.“Prinsipnya sederhana, tapi manfaatnya sangat besar. Program ini sangat membantu masyarakat pesisir utara Jawa Tengah,” ujarnya di Semarang, Sabtu.Ia menjelaskan, satu unit mesin desalinasi mampu memproduksi sekitar 4.000 liter air bersih per hari atau setara 200 galon, yang dapat mencukupi kebutuhan sekitar 400 rumah tangga per bulan. Dengan kapasitas tersebut, satu unit mesin dapat melayani kebutuhan air bersih satu desa.Proses pengolahan air dilakukan melalui lima tahapan, yakni sand filter, membran reverse osmosis (RO), dua tahap karbon, serta penyinaran ultraviolet. Hasilnya, air minum yang dihasilkan telah diuji di laboratorium independen terakreditasi dengan total zat terlarut (TDS) hanya 62 mg/liter, jauh di bawah ambang batas yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023.Pengelolaan mesin desalinasi diserahkan kepada masyarakat setempat melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau kelompok pengelola air desa. Air hasil desalinasi dijual dengan harga sekitar 50 persen lebih murah dari harga pasar, sementara hasil penjualannya digunakan untuk biaya listrik dan perawatan mesin.Di Desa Randusanga Kulon, Kepala Desa Affan Setyono bahkan memilih membagikan air secara gratis selama satu bulan pertama operasional.“Ini air RO dari air payau, sehat. Kami siap mengelola dan menjualnya hanya untuk biaya operasional,” katanya.Manfaat program ini dirasakan langsung oleh warga. Sri Hastutik, salah satu warga Randusanga Kulon, mengaku kini hanya membayar Rp2.500 per galon, jauh lebih murah dibanding sebelumnya yang mencapai Rp5.000 per galon.“Dulu harus jalan hampir satu kilometer untuk beli air. Sekarang dekat dan murah,” ujarnya.Selain harga, kualitas air menjadi faktor utama yang memberikan rasa aman bagi warga.“Airnya tidak asin. Aman buat susu bayi,” katanya sambil menimang balitanya yang berusia tiga bulan.Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin menilai program desalinasi sebagai investasi jangka panjang yang berdampak luas, tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pada penurunan stunting, perbaikan gizi, serta peningkatan produktivitas UMKM.“Kita bangga karena teknologi ini 100 persen karya anak bangsa, dikembangkan oleh Undip. Tidak impor,” ujar Gus Yasin, sapaan akrabnya.Ia berharap pemerintah pusat dapat mengadopsi konsep ini, terutama jika proyek giant sea wall di Pantura kelak terwujud. Menurutnya, kolam retensi di sepanjang tanggul laut dapat dimanfaatkan sebagai sumber air baku desalinasi.Pakar desalinasi Undip, Prof I Nyoman Widiasa, menyebut program tersebut sebagai contoh nyata praktik collaborative governance. Pada 2026, Undip juga menyiapkan pengembangan desalinasi berbasis tenaga surya agar lebih hemat energi.Teknologi ini juga didorong untuk dimanfaatkan oleh sektor industri guna mengurangi pengambilan air tanah yang selama ini menjadi salah satu penyebab penurunan muka tanah di wilayah pesisir.“Dampak langsungnya adalah air minum yang aman dan murah. Dampak jangka panjangnya adalah peningkatan kesehatan masyarakat dan pelestarian lingkungan,” jelasnya.Ia menambahkan, keberlanjutan program sangat bergantung pada sistem pengelolaan di masing-masing lokasi, baik yang dikelola oleh pondok pesantren, BUMDes, koperasi, maupun kelompok KP-SPAM.Pemprov Jawa Tengah pun telah menyiapkan langkah lanjutan. Pada 2026, dua unit desalinasi tambahan direncanakan dibangun dengan alternatif lokasi di Tegal, Pemalang, dan Demak, menyesuaikan dengan kemampuan anggaran daerah.Kini, di pesisir Jawa Tengah, air asin tak lagi semata membawa masalah. Dengan sentuhan teknologi, kolaborasi, dan kebijakan yang berpihak, laut justru menghadirkan harapan—mengalir sebagai sumber kehidupan bagi warga yang selama ini paling dekat dengan pantai, namun paling jauh dari akses air bersih. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Swiss Umumkan Skuad Piala Dunia 2026, Xhaka Pimpin Generasi Berpengalaman

Ekonomi

Hossam Hassan Resmi Umumkan Skuad Mesir untuk Piala Dunia 2026

Ekonomi

Progres Sekolah Rakyat di Medan Capai 73 Persen, Rico Waas: Tercepat di Indonesia

Ekonomi

TP PKK Jateng Dorong Pemanfaatan Pekarangan untuk Ketahanan Pangan dan Pengendalian Inflasi

Ekonomi

Evann Guessand di Ambang Sejarah, Bisa Raih Dua Gelar Eropa dalam Semusim

Ekonomi

Densus 88 Polri Gelar Rakernis 2026, Fokus Antisipasi Radikalisme Digital pada Anak dan Remaja