Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mengusulkan konsep “Dwi Bandara”, yaitu pengoperasian bersama Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung dan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Majalengka.Usulan tersebut disampaikan langsung oleh Wali Kota Bandung Muhammad Farhan di hadapan Wakil Ketua DPR RI Saan Mustafa, Wakil Ketua Komisi V DPR RI Saeful Huda, jajaran Komisi V, serta Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman, saat kunjungan kerja DPR RI di Gedung Sate Bandung, Jumat.Farhan menjelaskan, pengaktifan kembali Bandara Husein tidak hanya penting bagi Kota Bandung, tetapi juga untuk mengoptimalkan ekosistem transportasi udara di Jawa Barat.“Kami menyarankan agar kedua bandara dihidupkan secara simultan, jangan menunggu yang satu maju dulu baru yang lain menyusul. Kalau hanya menunggu, kita tidak akan bergerak,” ujar Farhan.Menurutnya, konsep ini merupakan hasil kajian bersama Pemkot Bandung, Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Jawa Barat, dengan melibatkan PT Dirgantara Indonesia (PT DI), Lanud Husein Sastranegara, serta PT Angkasa Pura II.Farhan menilai, Bandara Husein memiliki posisi strategis sebagai “satelit” pendukung Kertajati.“Bandara Husein bagian tak terpisahkan dari ekosistem penerbangan Jawa Barat. Saat pusat ekosistem ada di Kertajati, satelitnya harus hidup untuk saling mendukung,” jelasnya.Namun, Farhan mengakui bahwa Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menghadapi tantangan kebijakan karena arahan pemerintah pusat menekankan aktivasi Kertajati sebagai hub utama.“Kemenhub terbuka terhadap ide kami, tetapi mereka berpatokan pada perintah presiden untuk mengaktifkan Kertajati. Kami menawarkan cara dengan menghidupkan keduanya,” tambahnya.Selain kebijakan, Farhan menekankan perlunya insentif bagi maskapai dan pelaku usaha penerbangan agar kedua bandara dapat beroperasi optimal.“Intervensi kepada dunia usaha penerbangan agar memajukan Kertajati harus dibarengi insentif bagi Husein,” katanya.Bandara Husein sendiri memiliki luas lahan 145 hektare, berlokasi strategis hanya 3 kilometer dari Tol Pasteur, sekitar 15 menit dari pusat kota, serta terhubung ke Stasiun Cimindi dalam 10–15 menit perjalanan. Fasilitasnya pun dinilai masih layak operasional.Pemkot Bandung mengusulkan agar penerbangan domestik dari Husein difokuskan pada rute-rute unggulan seperti Denpasar, Medan, dan Balikpapan, sementara rute internasional Kuala Lumpur diutamakan karena tingginya permintaan wisata dan perdagangan.Bahkan, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Malaysia telah menyampaikan surat resmi kepada Pemkot Bandung yang mendukung reaktivasi Bandara Husein.Farhan menyebut, aktivasi konsep “Dwi Bandara” akan memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Barat. Pada semester pertama 2025, ekonomi Bandung tumbuh 5,42 persen, dengan inflasi terkendali dan peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara.“Tingkat hunian hotel pada Agustus lalu rata-rata mencapai 56,38 persen, bahkan hotel berbintang lebih dari 60 persen. Ini menunjukkan wisatawan yang datang memiliki daya beli premium,” ujar Farhan.Pemkot Bandung menargetkan penyusunan masterplan gabungan Husein–Kertajati rampung dalam 12 bulan ke depan, dan diluncurkan sebagai “West Java Twin Airport” pada akhir 2026.Konsep ini selaras dengan strategi West Java Aero Gateway, yang diharapkan menjadi pintu gerbang transportasi udara dan industri pariwisata Jawa Barat.Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Saan Mustafa mendukung penuh usulan tersebut.“Jawa Barat punya dua bandara, Kertajati dan Husein. Bandara Husein memiliki sejarah panjang sebelum BIJB hadir. Kita sepakat jangan sampai untuk menghidupkan yang satu, yang lain justru dimatikan. Akhirnya dua-duanya mati,” kata Saan.Ia menegaskan, bandara merupakan etalase daerah dan memiliki dampak ekonomi besar, sehingga perlu solusi realistis agar keduanya beroperasi maksimal.“Kita ingin yang mati bisa hidup, yang hidup tambah sehat, sehingga tidak menjadi beban tetapi memberi manfaat bagi masyarakat Jawa Barat,” tutupnya. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting