Jakarta (buseronline.com) - Memasuki akhir Triwulan II-2025, sejumlah indikator global menunjukkan perlambatan aktivitas ekonomi dunia, terutama di sektor manufaktur. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan kondisi ini dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR RI, Kamis, di Jakarta.Menkeu mengungkapkan, Purchasing Managers Index (PMI) global kini memasuki zona kontraksi, menandakan aktivitas manufaktur dunia mengalami pelemahan. Di sisi lain, harga komoditas global menunjukkan tren fluktuatif dan cenderung menurun.Ketegangan geopolitik, terutama akibat konflik bersenjata antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat, sempat memicu lonjakan harga minyak hingga 8%, sebelum akhirnya stabil kembali.“Ini situasi global yang tidak makin membaik. IMF dan Bank Dunia semua merevisi pertumbuhan tahun 2025 ini ke bawah,” ujar Menkeu Sri Mulyani.Lembaga multilateral seperti Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk 2025. Volume perdagangan dan arus investasi internasional juga diprediksi tumbuh sangat tipis atau bahkan mengalami penurunan.Meski demikian, Menkeu menilai ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan (resilience). Inflasi inti tetap terkendali pada level 1,9%. Ekspor nasional juga relatif terjaga, meskipun sempat terganggu oleh kebijakan tarif sepihak yang diumumkan Presiden AS, Donald Trump, dalam peristiwa yang disebut sebagai "tariff liberation day" pada April 2025.Neraca perdagangan Indonesia bahkan mencatat surplus yang meningkat pada bulan Mei. Namun, tekanan eksternal mulai terasa di sejumlah indikator domestik.“Sekarang mulai masuk dampak global itu terhadap komponen pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelas Menkeu.Penurunan mulai dirasakan dari aktivitas manufaktur domestik yang kini memasuki zona kontraksi. Penjualan semen yang sebelumnya tumbuh pesat pada April tercatat mengalami penurunan pada Mei.Begitu pula dengan angka penjualan mobil yang mengalami koreksi signifikan. Sektor keuangan turut mengalami gejolak sebagai akibat volatilitas global, dipicu kebijakan proteksionisme dan konflik Timur Tengah yang makin memburuk.Sebagai respons atas tantangan eksternal tersebut, Pemerintah meluncurkan paket stimulus ekonomi tahap kedua di Triwulan II-2025. Paket ini dirancang untuk mendorong pertumbuhan konsumsi masyarakat dan menjaga daya beli, khususnya menjelang periode libur sekolah Juni–Juli.Beberapa kebijakan dalam stimulus ini antara lain:Diskon transportasi umum, mencakup tiket kereta api, pesawat, dan angkutan laut, dengan anggaran sebesar Rp0,94 T.Diskon tarif tol pada periode liburan sekolah senilai Rp0,65 T, dibiayai non-APBN.Penebalan bantuan sosial, berupa tambahan Kartu Sembako senilai Rp200 ribu per bulan untuk dua bulan, serta bantuan beras pangan sebanyak 10 kg per bulan, dengan total anggaran Rp11,93 T.Subsidi upah sebesar Rp300 ribu bagi 17,3 juta pekerja bergaji di bawah Rp3,5 juta atau UMP daerah. Program ini juga mencakup 288 ribu guru di Kemendikdasmen dan 277 ribu guru di Kemenag, dengan total anggaran Rp10,72 T.Diskon iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) bagi sektor padat karya sebesar Rp0,2 T, juga dibiayai non-APBN.Menkeu menekankan bahwa stimulus ini ditujukan untuk menjaga momentum pertumbuhan nasional di tengah tekanan global yang kian intens.“Dengan stimulus ini kita harapkan memitigasi kecenderungan pertumbuhan ekonomi yang memang terus-menerus didera tekanan dari global, dan bisa mengkompensasi dampak tarif Presiden Trump yang oleh IMF dan World Bank disebut dapat menurunkan pertumbuhan kita ke level 4,7%,” pungkasnya.Pemerintah berharap, paket stimulus ini dapat menjaga stabilitas ekonomi nasional dan mempertahankan target pertumbuhan di tengah berbagai tekanan global yang tak terduga. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting