Jakarta (buseronline.com) - Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menegaskan bahwa perguruan tinggi memegang peran kunci sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi nasional.Hal ini disampaikannya dalam paparan pada International Conference on Infrastructure (ICI) 2025, yang digelar pada Kamis di Jakarta.Dalam forum bertaraf internasional tersebut, Menteri Brian menyampaikan bahwa tidak ada bangsa yang mampu mencapai kemajuan ekonomi berkelanjutan tanpa fondasi industri yang kuat, dan industri tidak akan berkembang tanpa dukungan riset dan sumber daya manusia (SDM) unggul yang berasal dari perguruan tinggi.“Pertumbuhan ekonomi harus dimulai dari perguruan tinggi. Tanpa riset dan SDM unggul dari kampus, industri kita tidak akan punya daya saing,” tegas Menteri Brian di hadapan peserta konferensi.Pernyataan ini sejalan dengan visi Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.Menurut Menteri Brian, ada empat indikator utama dalam pembangunan manusia yang menjadi target strategis menuju tahun 2045, yakni: meningkatkan pendapatan per kapita hingga setara negara berpenghasilan tinggi, menurunkan angka kemiskinan secara signifikan, memperkuat posisi kepemimpinan Indonesia di panggung internasional, serta meningkatkan daya saing SDM nasional.“Visi Presiden dan Wakil Presiden RI ini sangat relevan. Kita perlu mengadopsi sains dan teknologi secara serius untuk menopang sektor ekonomi kita,” jelasnya.Menteri Brian memaparkan bahwa sejak awal abad ke-21, inovasi dan teknologi menjadi faktor pendorong utama pertumbuhan ekonomi global. Untuk itu, ia menekankan pentingnya menyusun rencana strategis nasional yang berbasis kolaborasi erat antara pemerintah, industri, dan perguruan tinggi.Ia mencontohkan negara-negara berpenghasilan tinggi seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok yang sukses mengandalkan riset perguruan tinggi sebagai pondasi industri global mereka.Beberapa contoh nyata termasuk Samsung Electronics yang berasal dari riset di Seoul National University, dan Mitsubishi yang memiliki keterkaitan erat dengan University of Tokyo.“Model ini sudah terbukti. Sekarang saatnya Indonesia menerapkan pola serupa agar kita mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 8%,” ujarnya.Tak hanya di tingkat nasional, Menteri Brian juga mendorong agar pemerintah daerah menggandeng akademisi dan peneliti dari kampus-kampus lokal untuk meningkatkan kinerja pembangunan di wilayah masing-masing. Menurutnya, keterlibatan para ahli akan memperkuat sinergi program daerah dengan pengembangan ilmu pengetahuan.Dalam forum tersebut, Menteri Brian turut mengutip data dari World Development Report 2024 yang menunjukkan bahwa kapasitas riset Indonesia masih jauh tertinggal dibandingkan negara maju.Saat ini, Indonesia hanya memiliki sekitar 400 peneliti per satu juta penduduk, jauh di bawah standar ideal sebesar 4.000 peneliti per satu juta penduduk yang dimiliki negara-negara berpenghasilan tinggi.“Keadaan negara sangat tergantung pada bagaimana kita memahami dan menciptakan sains dan teknologi untuk masyarakat. Kuncinya ada di riset, inovasi, dan bagaimana kita menyiapkan SDM berkualitas tinggi,” pungkasnya.Konferensi ICI 2025 sendiri dihadiri oleh sejumlah akademisi, peneliti, praktisi industri, serta pengambil kebijakan dari berbagai negara. Forum ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dalam bidang infrastruktur, sains, dan teknologi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.Dengan semangat tersebut, Kemdiktisaintek terus mendorong terciptanya ekosistem riset dan inovasi yang solid, agar perguruan tinggi Indonesia dapat menjadi penggerak utama transformasi ekonomi nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting