Deprecated: preg_replace(): Passing null to parameter #3 ($subject) of type array|string is deprecated in /home/u522261782/domains/buseronline.com/public_html/amp/fungsi.php on line 192

Teknologi Ramah Lingkungan dan Model Bisnis Sawit: Hasil Kolaborasi Kemdiktisaintek dan Dewan Sawit

Dirgahayu Ginting - Sabtu, 14 Juni 2025 10:18 WIB
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto berfoto bersama jajaran Dewan Minyak Sawit Indonesia dan mitra strategis usai pertemuan di Kantor Kemdiktisaintek, Jakarta, Kamis (12/6/2025). (Dok/Diktisaintek)
Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus memperkuat peran strategis riset dan inovasi dalam sektor perkebunan, salah satunya melalui kolaborasi dengan Dewan Minyak Sawit Indonesia.Pertemuan yang digelar pada Kamis di Jakarta ini menyoroti pengembangan teknologi pengolahan kelapa sawit yang ramah lingkungan serta penerapan model bisnis inklusif berbasis petani.Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, dalam sambutannya menegaskan bahwa sawit merupakan komoditas strategis nasional yang selama ini belum sepenuhnya dimaksimalkan dari sisi hilirisasi dan teknologi berkelanjutan.“Sawit ini produk yang sangat strategis, tapi belum ada hilirisasi yang dikawal hingga tuntas. Ini kita jadikan pilot, dan kita kawal sampai betul-betul jadi,” tegas Brian.Pertemuan ini menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari peneliti, akademisi, pelaku industri, hingga pengambil kebijakan, untuk menyepakati agenda bersama terkait transformasi industri sawit nasional.Fokus utama diarahkan pada pengembangan teknologi pengolahan rendah emisi, peningkatan nilai tambah produk turunan, dan penguatan posisi petani dalam rantai pasok industri sawit.Salah satu inovasi utama yang disoroti adalah teknologi dry process (pengolahan tanpa air) dengan suhu rendah di bawah 80°C. Teknologi ini dikembangkan melalui kolaborasi antara Institut Teknologi Bandung (ITB), Fakultas MIPA Universitas Indonesia (UI), serta mitra industri seperti PT NCA dan Agro Investama. Proses ini berbeda dengan metode konvensional yang menggunakan suhu tinggi (180–200°C) dan menghasilkan limbah cair serta gas rumah kaca.Hasil riset ini telah menghasilkan produk turunan seperti olein murni (Refined Bleached Moisture Olein/RBMO) dan sterim yang mengandung 3-MCPD sangat rendah—sesuai standar internasional—dan siap untuk dikomersialisasikan. Langkah selanjutnya, teknologi ini akan diuji coba dalam bentuk mini plant di wilayah kebun petani swadaya.Model bisnis yang diusulkan berbasis koperasi, di mana pabrik akan dimiliki bersama oleh para petani dan sepenuhnya dialihkan kepada mereka dalam jangka waktu tertentu.Teknologi ini juga dirancang hemat energi dan tidak menghasilkan limbah cair, sehingga mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.Dalam roadmap awal, proyek ini menargetkan pembangunan pilot di lahan seluas lebih dari 1 juta hektare kebun petani. Saat ini, sebanyak 34,8% dari total 6,88 juta hektare sawit rakyat diproyeksikan membutuhkan peremajaan (replanting) guna meningkatkan produktivitas dari rata-rata 9,2 ton menjadi 21,3 ton per hektare.Dari sisi ekonomi, proyek ini diperkirakan membutuhkan investasi sebesar Rp171 T untuk mendukung replanting dan pembangunan infrastruktur pengolahan. Jika terealisasi, potensi pendapatan industri sawit nasional diproyeksikan meningkat dari Rp61,5 T menjadi Rp142,7 T per tahun pada 2029.Selain menciptakan lebih dari 16 juta lapangan kerja, program ini juga membuka peluang perdagangan karbon dengan estimasi nilai USD15 per ton—di mana Tiongkok disebut siap menyerap hingga 30 juta ton emisi karbon.Selain aspek ekonomi, Kemdiktisaintek juga menyoroti kontribusi sawit dalam mendukung agenda kesehatan nasional. Produk turunan seperti vitamin E dan tokoferol memiliki potensi besar dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat, terutama untuk penanggulangan stunting.Kemdiktisaintek tengah menjajaki kerja sama dengan produsen makanan nasional untuk mendistribusikan produk sawit yang telah difortifikasi secara masif.Sebagai langkah lanjut, Menteri Brian menginstruksikan pembentukan tim khusus untuk menyusun roadmap implementasi proyek ini secara terstruktur. Tim ini akan merumuskan spesifikasi teknologi, skema pendanaan, dampak ekonomi, serta strategi kolaborasi antara pemerintah, swasta, dan perguruan tinggi.“Proyek hilirisasi sawit ini adalah bukti nyata bahwa ilmu pengetahuan bisa dan harus hadir dalam menyelesaikan tantangan bangsa. Kita dorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berbasis teknologi, dan berpihak pada petani,” tutup Mendiktisaintek.Sejumlah tokoh yang hadir dalam pertemuan ini antara lain Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia Sahat Sinaga, Chairman Agro Investama Petrus Chandra, Guru Besar FMIPA UI Budiawan, Direktur Nusantara Green Energi Iman Dermawan, serta Komisaris Nusantara Green Energi Zokanda Siahaan.Dengan kolaborasi ini, Kemdiktisaintek dan Dewan Minyak Sawit Indonesia berharap dapat mengakselerasi transformasi industri sawit nasional menuju ekosistem yang lebih berkelanjutan, inklusif, dan berbasis inovasi. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
Sumber
:

Tag:

Berita Terkait

Ekonomi

Pj Sekda Sumut Tekankan Peran Generasi Muda dalam Perayaan Paskah MPK Sumut-Aceh

Ekonomi

Kepatuhan LHKPN DPRD Rendah, KPK Peringatkan Ancaman terhadap Kepercayaan Publik

Ekonomi

5.503 Gedung Koperasi Merah Putih Terbangun di Jawa Tengah

Ekonomi

Pertamina Patra Niaga Optimalkan Armada Laut untuk Jaga Distribusi LPG Nasional

Ekonomi

Ribuan Kafilah Meriahkan Pawai Ta’aruf MTQ ke-59 Kota Medan

Ekonomi

KPK: Kampus Jadi Garda Depan Pembentukan Integritas Generasi Muda