Cilacap (buseronline.com) - Kolaborasi antara anak muda dan masyarakat desa berhasil mengubah lanskap pertanian tradisional menjadi lebih modern dan efisien melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.Inovasi ini muncul dari program Desa Energi Berdikari Pertamina, yang digelar dalam rangka peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Kamis (5/6/2025), di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.Salah satu inovasi yang mencuri perhatian adalah alat pengering gabah Pinky Rudal, yang memanfaatkan energi hibrida dari Bright Gas dan panel surya. Alat ini memungkinkan petani mengeringkan gabah hingga 5 ton dalam 8 jam, tanpa tergantung cuaca.“Dulu kalau musim hujan kami terpaksa menunda panen karena tidak bisa mengeringkan gabah. Sekarang kami bisa mengatur waktu tanam dan panen lebih fleksibel,” ujar Suyitno, petani Desa Mernek. Ia menyebut, produktivitas lahan mereka naik signifikan dari 2,5 ton menjadi 4 ton per hektar berkat alat tersebut.Tak berhenti di situ, masyarakat Desa Mernek juga diperkenalkan dengan teknologi irigasi berbasis Internet of Things (IoT) dari startup Adosistering, yang digawangi mahasiswa Telkom University. Teknologi ini mampu menghemat penggunaan air hingga 50 persen, serta menekan pemakaian pupuk hingga 20 persen.“Sensor yang kami tanam akan mengatur waktu dan volume penyiraman secara otomatis sesuai kebutuhan tanaman,” jelas Dewi, pendiri Adosistering. Teknologi ini sebelumnya sukses diterapkan di Desa Kedungbenda, dengan peningkatan hasil panen mencapai 30 persen.Acara peringatan juga dihadiri oleh Wakil Bupati Cilacap Ammy Amalia Fatma Surya dan Asisten Deputi BUMN Bidang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Edi Eko Cahyono. Dalam sambutannya, Ammy mengapresiasi adopsi teknologi oleh masyarakat desa.“Ini menjadi bukti bahwa inovasi anak muda bisa diterapkan dan memberi dampak nyata di lapangan. Saya berharap teknologi seperti ini bisa menjadi role model untuk desa-desa lain,” ujarnya.Selain Pinky Rudal dan Adosistering, turut ditampilkan beragam teknologi tepat guna lainnya seperti kincir air tenaga surya hibrida di Desa Lomanis, hasil inovasi Fuel Terminal Pertamina Lomanis. Alat ini mampu menghemat biaya listrik hingga Rp2,3 juta per tahun dan meningkatkan produktivitas budidaya ikan sidat.Sementara di Desa Kalijaran, warga bersama Pertamina Refinery Unit IV Cilacap mengembangkan sistem pengairan terintegrasi dengan energi terbarukan.Sistem ini terdiri dari 7 pompa irigasi tenaga surya dan angin (PLTS dan PLTB), 8 kolam penampungan air, serta 1 pompa utama, yang mampu mengairi lahan seluas 15 hektare dan menggandakan hasil pertanian.Sejalan dengan tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2025 yang mengangkat isu memerangi polusi plastik, Pertamina juga menampilkan program pengelolaan sampah terpadu lewat Bank Sampah Abhipraya, binaan RU IV Cilacap.Sampah plastik dikelola dengan mesin pencacah bertenaga surya, sedangkan sampah organik diolah dengan biokomposter dan maggot. Program ini tak hanya membantu lingkungan, tetapi juga meningkatkan pendapatan warga.Edi Eko menyampaikan bahwa pihaknya akan terus mendorong inovasi desa melalui program Desa Energi Berdikari Pertamina. “Kami membuka ruang bagi ide-ide baru baik dari internal Pertamina maupun pihak eksternal. Kami percaya, teknologi bisa menjadi jawaban atas tantangan sosial dan lingkungan di masyarakat,” jelasnya.Dalam acara tersebut, Pertamina bersama masyarakat juga melakukan penanaman 100 bibit pohon mangrove di kawasan konservasi Jagapati (SIMANJA). Aksi ini merupakan bagian dari target penanaman 5.000 bibit mangrove di sekitar wilayah operasi Pertamina Kilang Internasional RU IV Cilacap.Sebagai perusahaan energi nasional yang tengah bertransformasi menuju net zero emission 2060, Pertamina menegaskan komitmennya mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) melalui pendekatan Environmental, Social, and Governance (ESG) di seluruh operasionalnya. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting