Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) terus memperkuat pengembangan sektor pariwisata melalui inovasi Sinergi Governansi Adaptif Desa Wisata (Sigap Deswita).
Dilansir dari laman Jatengprov, program ini dirancang untuk mengoptimalkan potensi desa
wisata melalui kolaborasi lintas sektor sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat.
Kepala Biro Administrasi Pembangunan Daerah (Bangda) Setda Provinsi Jawa Tengah Eni Lestari mengatakan Sigap Deswita mengedepankan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media dalam mengembangkan potensi desa wisata.
Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya mendukung program unggulan Gubernur
Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, yakni pengembangan 1.000 desa
wisata atau kampung
wisata yang tertuang dalam RPJMD 2025-2029.
"Pengelolaan desa wisata tidak bisa dilakukan sendiri oleh Dinas Pariwisata. Perlu kolaborasi banyak pihak, dengan masyarakat sebagai akar penggeraknya," ujar Eni, pada 6 November 2026.
Menurutnya, setiap desa
wisata memiliki potensi dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, Sigap Deswita mendorong pemetaan potensi desa, pendampingan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM), pelatihan pengolahan produk lokal, hingga dukungan sarana dan prasarana melalui kerja sama lintas sektor.
Berdasarkan data Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif Jawa Tengah, pada 2025 terdapat 899 desa wisata. Dari jumlah tersebut, sekitar 76,2 persen masih berstatus rintisan sehingga membutuhkan pendampingan dan pengembangan agar mampu naik kelas.
Salah satu contoh pengembangan desa
wisata dilakukan di Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus, Kabupaten Semarang. Desa tersebut memanfaatkan potensi Sungai Tuntang untuk
wisata rekreasi dan arung jeram. Bahkan, kawasan itu pernah menjadi tuan rumah cabang olahraga rafting dalam ajang olahraga tingkat Provinsi
Jawa Tengah.
Pengembangan wisata tersebut turut membuka peluang usaha bagi masyarakat. Warga mulai didorong menyediakan homestay dengan memanfaatkan rumah tinggal serta mengembangkan produk olahan pangan lokal.