Semarang (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah meminta petambak garam rakyat tidak terburu-buru menjual hasil panen di tengah melimpahnya produksi yang berpotensi membuat harga garam semakin turun.
Dilansir dari laman Jatengprov, Kabid Kelautan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP)
Jawa Tengah, Lilik Harnadi mengatakan kondisi cuaca kemarau tahun ini cukup mendukung produksi garam di sejumlah sentra.
Jawa Tengah memiliki sembilan daerah penghasil garam. Total produksi pada 2025 tercatat mencapai 283.202,19 ton.
Kabupaten Pati menjadi daerah dengan produksi terbesar, yakni 211.544,23 ton, disusul Rembang 42.112,30 ton, Jepara 14.174,36 ton, dan Demak 13.868,66 ton.
Produksi lainnya berasal dari Brebes 1.294,35 ton, Purworejo 136,91 ton, Kebumen 38,68 ton, Grobogan 30,95 ton, dan Cilacap 1,75 ton. Dengan produksi tersebut, Jawa Tengah menjadi produsen garam terbesar kedua di Indonesia.
Lilik menyebut produksi garam pada 2024 sebenarnya mencapai 536.612,56 ton. Namun, produksi menurun pada 2025 karena kondisi kemarau basah.
"Tahun kemarin sempat turun karena kemarau basah. Pada 2024 produksi kita menyentuh 536.612,56 ton. Tahun ini diprediksi suhu meningkat sekitar 2 derajat Celsius, sehingga kondisi cuaca lebih kering. Sampai November mungkin masih bisa panen," ujarnya.
Peningkatan produksi tahun ini di sisi lain berpotensi menekan harga garam rakyat. Pasokan yang melimpah membuat harga di tingkat petambak mulai mengalami penurunan.
Di Demak, misalnya, harga garam produksi petambak saat ini berada di kisaran Rp60 ribu per kuintal atau sekitar Rp600 per kilogram.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov
Jawa Tengah meminta petambak memaksimalkan peran koperasi. Petambak juga diimbau menahan penjualan dan menyimpan garam di gudang ketika harga mulai melemah.
Salah satu contoh yang dinilai berhasil berada di Kaliori, Kabupaten Rembang. Melalui Koperasi Sari Tani Makmur yang mendapat dukungan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta DKP Jawa Tengah, petambak mampu memproduksi garam konsumsi secara mandiri.
Koperasi tersebut bahkan telah bekerja sama dengan pihak lain untuk memproduksi garam menggunakan merek sendiri. Langkah tersebut dinilai mampu memberikan nilai tambah bagi hasil produksi petambak.