Magelang (buseronline.com) - Kehadiran energi terbarukan mulai membawa perubahan nyata bagi masyarakat desa. Tidak hanya menghadirkan listrik, energi bersih juga membantu memenuhi kebutuhan air bersih hingga membuka peluang ekonomi bagi warga.
Dilansir dari laman Pertamina, salah satu kisah tersebut datang dari Kampung Posa, Distrik Klamono, Kabupaten Sorong,
Papua Barat Daya. Selama bertahun-tahun, warga setempat menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih, terutama ketika musim kemarau tiba.
Alfredo Nicholas Saputra Kolin, warga Kampung Posa, mengungkapkan bahwa masyarakat sebelumnya mengandalkan air hujan yang ditampung saat musim penghujan atau mengambil air dari Sungai Klasafet yang lokasinya cukup jauh dari permukiman.
Saat curah hujan menurun, persediaan air cepat habis. Sementara itu, kondisi air sungai juga tidak selalu layak digunakan karena kerap berwarna keruh.
Kini, kondisi tersebut mulai berubah setelah hadirnya sistem Solar Water Treatment yang didukung Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 3,3 kWp melalui Program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina.
Alfredo menjadi salah satu local hero yang bertugas memastikan pembangkit tersebut tetap beroperasi dengan baik. Setiap hari, ia memeriksa kondisi
PLTS agar sistem penyediaan air bersih dapat berjalan secara berkelanjutan.
"Kalau listrik dari PLTS berhenti, air bersih juga ikut berhenti. Karena itu saya harus memastikan semuanya berjalan dengan baik," ujar Alfredo.
Menurut Alfredo, merawat
PLTS bukan hanya pekerjaan teknis. Tugas tersebut menjadi bagian penting dalam memastikan masyarakat tetap memperoleh akses terhadap kebutuhan dasar.
Kisah serupa terjadi di Desa Tumpak, Kabupaten Lombok Tengah. Burhanudin, pengelola Kelompok Masyarakat Tani Hutan Bina Lestari, sebelumnya menghadapi keterbatasan energi untuk mengembangkan usaha produksi Virgin Coconut Oil (VCO).
Kehadiran
PLTS berkapasitas 6,6 kWp melalui Program Desa Energi Berdikari mengubah kondisi tersebut. Burhanudin dipercaya menjadi pengelola sekaligus penjaga operasional pembangkit.
"Sekarang produksi bisa berjalan lebih lancar. Listrik dari PLTS membuat kami lebih percaya diri mengembangkan usaha," katanya.
Listrik dari
PLTS kini digunakan untuk menggerakkan mesin produksi VCO berkapasitas 5.500 watt. Kondisi tersebut membantu meningkatkan produktivitas kelompok, membuka peluang pendapatan baru, serta mendukung pengelolaan hutan secara lebih lestari.
Untuk menjaga keberlanjutan pembangkit energi bersih, Pertamina tidak hanya menyediakan infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat yang mengelolanya.
Melalui Program Desa Energi Berdikari, Pertamina telah menjangkau 262 desa di Indonesia. Para local hero mendapatkan edukasi, pelatihan hingga sertifikasi kompetensi dalam pengoperasian dan pemeliharaan
PLTS.
Hingga kini, sebanyak 128 local hero telah tersertifikasi. Pada 5–7 Agustus 2026, Pertamina kembali memfasilitasi sertifikasi bagi 21 local hero di Balkondes Wringin Putih, Borobudur, Magelang.
Peserta pelatihan mempelajari regulasi ketenagalistrikan, metodologi sertifikasi kompetensi, serta pengoperasian dan pemeliharaan
PLTS. Peserta yang dinyatakan kompeten akan memperoleh Sertifikat Junior Operator
PLTS yang diterbitkan PPSDM KEBTKE Kementerian ESDM.
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, mengatakan keberhasilan transisi energi tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur, tetapi juga kemampuan masyarakat dalam mengelola dan merawatnya.