Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemko) Bandung memastikan ketersediaan kebutuhan pokok masyarakat tetap aman meski terjadi kenaikan harga pada sejumlah komoditas selama masa libur.
Dilansir dari laman Jabarprov, hal tersebut disampaikan Wali Kota
Bandung Muhammad Farhan usai melakukan pemantauan harga dan ketersediaan bahan pangan di Pasar Cijerah dan Pasar Cihapit, Jumat.
Farhan mengatakan, secara umum harga kebutuhan pokok masih relatif stabil. Namun, terdapat dua komoditas yang mengalami kenaikan cukup signifikan, yakni ayam potong dan timun.
"Barang yang dijual sebenarnya sama, hanya memang ada sedikit perbedaan harga. Di Pasar Cihapit rata-rata sekitar 10 persen lebih mahal dibandingkan Pasar Cijerah karena karakter konsumennya berbeda," ujar Farhan.
Menurutnya, perbedaan harga di kedua pasar dipengaruhi oleh karakteristik konsumen. Pasar Cijerah melayani masyarakat di kawasan permukiman padat, sedangkan Pasar Cihapit berada di wilayah dengan tingkat ekonomi masyarakat yang relatif lebih tinggi.
Farhan menjelaskan, harga timun yang sebelumnya sekitar Rp10.000 per kilogram kini hampir dua kali lipat. Sementara itu,
harga ayam potong naik hingga berada pada kisaran Rp40.000 hingga mendekati Rp50.000 per kilogram.
Meski demikian, ia memastikan pasokan pangan di Kota Bandung masih mencukupi dan tidak ditemukan adanya kelangkaan komoditas.
Kenaikan
harga ayam, lanjut Farhan, diduga dipicu meningkatnya permintaan selama musim liburan dan tingginya aktivitas wisata di Kota
Bandung. Sementara pasokan dari daerah penghasil masih dalam kondisi aman.
Di sisi lain, kondisi komoditas sayuran dinilai cukup baik karena sedang memasuki masa panen. Pemko Bandung juga optimistis pasokan beras hingga akhir tahun tetap terjaga seiring musim panen yang diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September.
Untuk menjaga stabilitas harga, Pemko
Bandung bersama Bulog akan memperkuat distribusi beras dan minyak goreng melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Bulog ditargetkan dapat memenuhi sedikitnya 30 persen kebutuhan beras dan minyak goreng di Kota
Bandung.