Boyolali (buseronline.com) - Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Boyolali, Kreasi Kayukuu, berhasil menembus pasar internasional setelah merintis usaha dekorasi berbahan kayu sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020.
Dilansir dari laman
Jatengprov, berawal dari usaha rumahan, kini produk-produknya telah dipasarkan ke sekitar 24 negara dan mampu mencatat omzet hingga Rp800 juta per bulan.
Pemilik Kreasi Kayukuu, Fatta Yasin mengatakan usaha tersebut lahir setelah dirinya kehilangan pekerjaan akibat pandemi. Berbekal hobi menggambar dan keinginan untuk tetap produktif, ia bersama seorang tetangga mulai mengembangkan produk kaligrafi berbahan kayu.
"Awalnya kami ingin membuat kaligrafi kayu agar bisa dinikmati lebih banyak orang. Jika dikerjakan secara manual, jumlah produksi sangat terbatas," ujarnya saat ditemui di lokasi usaha di Dibal, Ngemplak, Boyolali.
Perjalanan usaha tidak berjalan mulus. Mesin CNC pertama yang dibeli dengan investasi sekitar Rp20 juta belum mampu memenuhi kebutuhan produksi. Namun, kondisi tersebut tidak membuat usaha berhenti.
Mesin tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membuat berbagai produk kerajinan berbahan kertas yang hasil penjualannya digunakan untuk mengembangkan usaha. Menurut Fatta, masa-masa awal menjadi tantangan terberat.
Modal usaha yang berasal dari tabungan pribadi sempat habis untuk pembelian peralatan produksi, sementara pemasukan masih sangat minim. Bahkan, pada periode awal, pekerja hanya mampu menerima upah sekitar Rp50 ribu per minggu.
Perkembangan usaha mulai terlihat setelah Kreasi Kayukuu mengikuti berbagai pelatihan marketplace dan pemasaran digital. Dari yang semula hanya memproduksi kaligrafi, usaha tersebut kemudian merambah pembuatan dekorasi pernikahan, ulang tahun, hingga berbagai produk kustom lainnya.
Saat ini, Kreasi Kayukuu memproduksi hampir 600 jenis produk berbahan plywood, akrilik, kertas, dan kayu pinus. Produk yang paling banyak diminati berupa hiasan dinding untuk rumah, kantor, hingga musala.
Selain menjangkau pasar nasional melalui berbagai platform digital, produk Kreasi Kayukuu juga telah diekspor ke sejumlah negara di kawasan Eropa dan Timur Tengah.
Pertumbuhan usaha tersebut turut berdampak pada peningkatan penyerapan tenaga kerja. Dari yang awalnya hanya dijalankan oleh dua orang, kini Kreasi Kayukuu telah memberdayakan lebih dari 50 pekerja.
"Omzet usaha saat ini berkisar antara Rp700 juta hingga Rp800 juta per bulan," kata Fatta.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah turut berperan dalam perkembangan usaha, terutama melalui pelatihan ekspor, pemasaran digital, serta fasilitasi promosi dan pameran.
Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah kesempatan mengikuti pameran Inacraft 2026 dan promosi melalui Dekranasda Jawa Tengah.
Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Eddy Sulistiyo Bramiyanto mengatakan sektor UMKM di Jawa Tengah terus menunjukkan pertumbuhan positif.
Pemerintah daerah terus memberikan pendampingan melalui peningkatan kualitas produk, pengemasan, pemasaran, digitalisasi, sertifikasi, hingga fasilitasi pameran.
"Produk-produk UMKM Jawa Tengah memiliki kualitas yang semakin baik. Tugas kami adalah terus mendampingi agar mereka mampu berinovasi, memanfaatkan digitalisasi, dan memperluas pasar," ujarnya.
Kisah Kreasi Kayukuu menjadi bukti bahwa kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan pemanfaatan teknologi digital dapat mendorong UMKM berkembang pesat.
Dari usaha yang lahir di tengah pandemi, produk karya anak bangsa asal Boyolali kini telah menghiasi berbagai rumah dan bangunan di berbagai negara. (R)