Medan (buseronline.com) - Perekonomian Provinsi Sumatera Utara (Sumut) tetap menunjukkan kinerja positif pada triwulan I tahun 2026 di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS)
Sumut, pertumbuhan ekonomi daerah ini mencapai 4,98 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Kepala BPS Sumut Asim Saputra mengatakan capaian tersebut menunjukkan ketahanan ekonomi Sumut yang masih terjaga meski dunia menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah.
"Ini menunjukkan bahwa ekonomi
Sumut tetap resilien di situasi sekarang, yang berkecamuk perang global terutama di Timur Tengah," ujar Asim dalam konferensi pers yang digelar Dinas Komunikasi dan Informatika
Sumut di Lobby Dekranasda Kantor Gubernur
Sumut, Medan, Selasa.
Menurut Asim, pertumbuhan ekonomi Sumut didukung oleh struktur industri daerah yang masih didominasi sektor pertanian dan perkebunan. Selain itu, ekspor Sumut yang sebagian besar ditujukan ke Amerika Serikat dan Tiongkok, khususnya untuk komoditas lemak serta minyak hewani maupun nabati, turut menjadi penopang pertumbuhan.
Meski konflik global memberikan tekanan terhadap aktivitas perdagangan internasional,
Sumut masih memperoleh keuntungan dari kenaikan harga crude palm oil (
CPO) di pasar global.
Pelemahan nilai tukar rupiah juga dinilai memberikan keuntungan bagi para eksportir di daerah tersebut. "Pertumbuhan ekonomi kita masih cukup bagus dan resilien," katanya.
Lebih lanjut, Asim menjelaskan bahwa konsumsi rumah tangga menjadi kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi
Sumut dengan porsi lebih dari 51 persen. Hal ini menunjukkan daya beli masyarakat masih cukup kuat.
Ia pun mengajak masyarakat untuk terus mendukung produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sebagai upaya memperkuat perekonomian daerah.
Selain ditopang konsumsi masyarakat, geliat ekonomi
Sumut juga terlihat dari banyaknya agenda nasional dan internasional yang diselenggarakan di daerah tersebut.
Beberapa di antaranya adalah Piala AFF U-19 2026, Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), Trail of The King by UTM 2026, dan Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU).
"Banyaknya tamu yang datang akan membuka usaha-usaha dan pekerjaan baru, seperti pada Trail of The King dan Piala AFF," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Biro Perekonomian Sekretariat Daerah Provinsi Sumut Poppy Marulita Hutagalung mengungkapkan inflasi Sumut pada Mei 2026 tercatat sebesar 4,35 persen (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 2,92 persen.
Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi antara lain emas perhiasan sebesar 0,57 persen, tomat 0,29 persen, beras 0,24 persen, cabai merah 0,18 persen, dan ikan dencis 0,16 persen.
Poppy menjelaskan, dari delapan kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumut, inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 5,35 persen, sedangkan yang terendah berada di Kabupaten Karo sebesar 3,98 persen.
Untuk menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi, Pemerintah Provinsi
Sumut telah menerapkan strategi 4K, yaitu Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Selain itu, Pemprov Sumut juga memperkuat kerja sama antardaerah melalui kerja sama operasional (KSO), termasuk untuk komoditas cabai merah dengan Kabupaten Karo guna menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan.
"Kita juga telah melakukan KSO untuk komoditas cabai merah dengan Kabupaten Karo. Namun tidak dipungkiri kerja sama bukan hanya untuk komoditas cabai merah," pungkasnya. (P3)