Jakarta (buseronline.com) - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) sekaligus ad interim Menteri Pertanian, Sudaryono menegaskan bahwa sektor pertanian kini menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi daerah.
Hal ini sejalan dengan peningkatan produksi pangan nasional dan keberhasilan pemerintah menekan
impor sejumlah komoditas strategis.
Dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor di Jakarta Selatan, Senin, Sudaryono menyampaikan bahwa kebijakan penguatan produksi pangan telah memberikan dampak langsung terhadap perputaran ekonomi masyarakat desa.
"Dulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat
impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri. Ini yang membuat ekonomi daerah bergerak," ujarnya.
Ia menjelaskan, sektor pertanian memiliki efek berganda karena mampu menyerap tenaga kerja, membuka usaha baru, dan menggerakkan ekonomi lokal.
Keberhasilan Indonesia menghentikan
impor beras konsumsi medium pada 2025 serta swasembada jagung dan gula konsumsi disebut telah menciptakan ruang produksi baru di dalam negeri.
Sudaryono yang juga Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia menambahkan bahwa berbagai program seperti pompanisasi, pipanisasi, perbaikan irigasi, optimalisasi lahan rawa, hingga distribusi benih unggul dan alat mesin pertanian telah mendorong peningkatan produksi.
Kementerian Pertanian juga telah menyalurkan sekitar 70 ribu pompa untuk meningkatkan indeks pertanaman. Menurutnya, sektor pertanian merupakan sektor paling dekat dengan masyarakat desa karena langsung menciptakan aktivitas ekonomi di tingkat lokal.
Selain itu, ia menyoroti program Makan Bergizi Gratis yang dinilai menciptakan pasar baru bagi komoditas pertanian dan peternakan seperti susu, daging sapi, telur, ayam, sayuran, kedelai, dan bawang putih. Program tersebut juga mendorong tumbuhnya investasi peternakan sapi perah di berbagai daerah.
Dari sisi perdagangan, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan nilai ekspor sektor pertanian Januari-Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun, meningkat signifikan, sementara
impor turun sekitar Rp41 triliun.
Sudaryono juga menilai penguatan dolar AS dapat menjadi peluang bagi komoditas ekspor pertanian seperti kopi, karet, kelapa, cengkeh, gula aren, dan serabut kelapa yang diperdagangkan dalam dolar.
Pemerintah, lanjutnya, juga memperluas program cetak sawah di luar Jawa sebagai strategi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka pusat ekonomi baru di daerah. "Cetak sawah bukan hanya soal pangan hari ini, tapi juga untuk 50 sampai 100 tahun ke depan," tegasnya.
Ia menutup dengan menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi salah satu penyumbang penting PDB nasional dan perlu terus diperkuat melalui dukungan pupuk subsidi, alat mesin pertanian, serta akses pembiayaan bagi petani dan peternak. (R)