Semarang (buseronline.com) - Tim Penggerak PKK Provinsi Jawa Tengah terus mendorong penguatan ekonomi keluarga melalui program Kapulaga (Kelompok Usaha Berbasis Keluarga).
Dilansir dari laman Jatengprov, program tersebut menjadi salah satu strategi pemberdayaan
UMKM berbasis rumah tangga agar lebih berkembang, mandiri, dan berkelanjutan.
Gagasan pembentukan Kapulaga disampaikan Ketua TP PKK Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, saat Rapat Koordinasi dan Sosialisasi Kapulaga yang digelar secara daring, Senin.
Nawal mengatakan, sektor
UMKM memiliki potensi besar karena jumlahnya terus meningkat setiap tahun. Hingga 2025, jumlah
UMKM di Jawa Tengah mencapai sekitar 4,45 juta unit dan mayoritas dijalankan oleh keluarga.
Namun, dari jumlah tersebut baru sekitar 198.780 unit atau 4,47 persen yang telah mendapatkan pendampingan dari Dinas Koperasi dan UMKM.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menghadirkan inovasi pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui pendekatan berbasis keluarga.
"PKK memiliki kekuatan jaringan hingga tingkat dusun, RW, RT, dan dasa wisma. Kekuatan ini dapat dimanfaatkan untuk menggerakkan ekonomi keluarga secara lebih masif dan berkelanjutan," ujarnya.
Selama ini, TP
PKK Jateng telah menjalankan program Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga (UP2K). Untuk memperkuat dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat, program
Kapulaga dihadirkan sebagai model pemberdayaan baru yang lebih terintegrasi.
"Agar implementasinya berkelanjutan dan memastikan berdampak pada peningkatan kesejahteraan keluarga, maka TP PKK Jateng mengembangkan sebuah terobosan yaitu program Kapulaga," kata Nawal.
Melalui program tersebut, pelaku usaha akan mendapatkan pendampingan secara menyeluruh mulai dari asesmen kebutuhan, pelatihan, penguatan kualitas produk, legalitas usaha, pengemasan, pemasaran, hingga akses pembiayaan.
Ia menjelaskan, Kapulaga merupakan kelompok usaha ekonomi produktif berbasis keluarga yang dibangun dengan semangat kolaborasi dan saling memberdayakan. Tujuannya untuk meningkatkan kemandirian ekonomi dan pendapatan keluarga.
Program ini memiliki empat layanan utama, yakni pembentukan kelompok
Kapulaga, pemberdayaan kelompok, pendampingan kelompok, serta pemantauan perkembangan usaha.
Adapun sasaran program adalah keluarga kurang mampu yang memiliki usaha produktif berbasis keluarga, baik di sektor makanan dan minuman, fesyen, maupun kriya.
"Kelompok usaha dapat dibentuk berdasarkan kumpulan individu atau wilayah tempat usaha, misalnya di tempat wisata, pasar, lingkungan pabrik, pusat perbelanjaan, atau area car free day," jelasnya.