Sukabumi (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat gerakan tanam serentak seluas sekitar 50 ribu hektare yang tersebar di 25 provinsi sebagai upaya menjaga produksi pangan nasional sekaligus memperkuat target swasembada pangan berkelanjutan di tengah perubahan iklim.
Dilansir dari laman
Kementan, kegiatan utama dipusatkan di
Desa Bojonglegok, Kecamatan Parakansalak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Jumat, dan dilaksanakan serentak di berbagai daerah pada lahan Optimalisasi Lahan (Oplah) 2024-2025 serta Cetak Sawah Rakyat (CSR) 2025.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP Kementerian Pertanian RI), Idha Widi Arsanti, hadir langsung dalam kegiatan tersebut bersama jajaran pemerintah daerah yang diwakili Staf Ahli Bupati Sukabumi, Tri Romadhono.
Secara nasional, program ini mencakup Oplah 2024 seluas 21.093 hektare, Oplah 2025 seluas 27.472 hektare, serta CSR 2025 seluas 1.700 hektare, dengan total target sekitar 50 ribu hektare.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan percepatan tanam serentak merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas produksi pangan di tengah ancaman perubahan iklim dan potensi musim kemarau.
Kementan juga telah menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, termasuk pemetaan wilayah rawan, optimalisasi sumber air, serta peningkatan indeks pertanaman.
Langkah mitigasi lainnya meliputi percepatan tanam, pompanisasi, optimalisasi lahan rawa, penggunaan benih tahan kekeringan, serta pembangunan infrastruktur air seperti embung, long storage, dan sumur bor.
Menurut Idha Widi Arsanti, keberhasilan program sangat bergantung pada pengawalan penyuluh pertanian dan petani di lapangan.
Ia menyebut gerakan ini telah dilaksanakan untuk keenam kalinya dan menjadi akselerator peningkatan indeks pertanaman di berbagai daerah.
"Gerakan ini mendorong petani untuk terus menanam setelah panen agar indeks pertanaman meningkat dari satu kali menjadi dua hingga tiga kali setahun," ujarnya.