Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah mencatat capaian signifikan di sektor pangan nasional. Hingga 18 Mei 2026, serapan beras nasional telah mencapai 2,8 juta ton atau sekitar 70 persen dari target 4 juta ton tahun ini.
Sementara stok beras nasional menembus 5,37 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Capaian tersebut disampaikan Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV
DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa.
"Serapan beras Januari hingga 18 Mei mencapai 2,8 juta ton dan stok nasional mencapai 5,37 juta ton. Ini merupakan stok tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia," ujar Sudaryono dilansir dari laman Kementan.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan ketahanan pangan Indonesia semakin kuat di tengah berbagai tantangan global, seperti perubahan iklim dan konflik internasional yang memengaruhi pasokan pangan dunia.
Pemerintah, kata dia, terus memperkuat kemandirian pangan nasional melalui penyerapan gabah, perlindungan petani, serta penguatan cadangan beras pemerintah.
"Indonesia terus memperkuat kemandirian pangan nasional agar kebutuhan masyarakat tetap terjamin dalam kondisi apa pun," katanya.
Sudaryono yang juga menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia mengungkapkan, produksi beras nasional pada 2025 mencapai 34,69 juta ton. Jumlah tersebut meningkat 4,07 juta ton atau 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Ia menyebut peningkatan produksi tidak terlepas dari arahan Presiden, dukungan DPR RI, dan kerja keras petani di seluruh Indonesia. "Produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya," jelasnya.
Meski stok beras meningkat, pemerintah tetap mewaspadai ancaman musim kemarau panjang pada 2026. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, musim kemarau dimulai sejak April di wilayah Nusa Tenggara dan diperkirakan meluas ke berbagai daerah lain dengan puncak kemarau pada Agustus.
Untuk mengantisipasi dampak terhadap produksi pangan, pemerintah memperkuat cadangan beras nasional guna menjaga stabilitas pasokan dan harga.
Pemerintah juga telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026-2029.
Melalui kebijakan tersebut, Perum Bulog ditargetkan menyerap gabah setara 4 juta ton beras dengan harga pembelian gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.