Jakarta (buseronline.com) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan dolar Amerika Serikat tidak otomatis mengancam kehidupan masyarakat desa.
Menurutnya, sektor pertanian justru menjadi bantalan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global karena didukung produksi pangan dalam negeri yang kuat.
Dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, Amran menyebut dampak penguatan dolar memang dirasakan pada sejumlah komoditas impor seperti kedelai dan bawang putih.
Namun, kondisi tersebut dinilai tidak terlalu memengaruhi masyarakat desa yang sebagian besar ditopang sektor pertanian.
"Dampak ada, beli BBM, tetapi ingat BBM subsidi kan tidak naik. Pupuk turun. Itulah yang dimaksud Bapak Presiden bahwa ada dampaknya, iya, tetapi dampak positifnya khususnya di desa, dampak positifnya jauh lebih tinggi," ujar Amran dilansir dari laman Kementan.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor sektor pertanian sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun atau meningkat sekitar Rp166 triliun dibanding sebelumnya. Sementara itu, impor sektor pertanian turun sekitar Rp41 triliun.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan pertanian kini menjadi penopang utama ekonomi nasional di tengah tekanan ekonomi global. "Ekspor kita naik Rp166 triliun, impornya turun Rp41 triliun. Ini data BPS, boleh dicek," katanya.
Amran menjelaskan, kebutuhan dasar masyarakat Indonesia sebagian besar berasal dari desa. Beras diproduksi petani, telur dan ayam berasal dari peternakan rakyat, sedangkan cabai dan bawang dipasok dari kebun petani.
Ia menilai kondisi Indonesia saat ini jauh berbeda dibanding krisis 1997-1998. Saat itu, stok beras pemerintah hanya sekitar 893 ribu ton di tengah dampak El Nino dan gagal panen sehingga pemerintah harus melakukan impor besar-besaran ketika nilai tukar rupiah melemah tajam.
Kini, kata Amran, cadangan beras pemerintah telah mencapai lebih dari 5 juta ton dengan kondisi produksi nasional surplus dan impor beras medium praktis dihentikan.
"Sekarang setiap ada krisis apa pun kondisi apa pun pasti ada plus minus. Sekarang di mana kecerdasan kita memanfaatkan situasi ini," ucapnya.
Pemerintah juga mencatat dari 11 komoditas strategis nasional, sebanyak delapan komoditas telah mencapai swasembada atau tidak lagi membutuhkan impor reguler.