Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) terus mempercepat pemanfaatan energi terbarukan di sektor pertanian melalui pengembangan biodiesel dan pengujiannya pada alat dan mesin pertanian (alsintan).
Dilansir dari laman
Kementan, upaya ini menjadi bagian dari strategi mendorong kemandirian energi nasional sekaligus mendukung modernisasi pertanian berkelanjutan.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah teknologi bioreaktor biodiesel hybrid oleh Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP).
Baca Juga:
Lirik Ampas Kelapa Jadi Biodiesel, Begini Kata PenelitiTeknologi ini memungkinkan pengolahan berbagai bahan baku minyak nabati menjadi biodiesel secara lebih efisien, fleksibel, dan terkontrol.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pengembangan biofuel merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, sekitar 5,3 juta ton crude palm oil (CPO) telah dikonversi menjadi biofuel.
"Sebanyak 5,3 juta ton CPO kita konversi menjadi biofuel. Artinya, tahun ini kita tidak impor solar. Ini perintah langsung Presiden," ujar Amran.
Ia menambahkan, percepatan program biodiesel, termasuk implementasi B50, menjadi kunci dalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil serta meningkatkan nilai tambah komoditas dalam negeri.
Sementara itu, Kepala BRMP Fadjry Djufry menyampaikan bahwa pengembangan bioenergi merupakan bagian dari hilirisasi inovasi pertanian.
Ia menekankan pentingnya menghasilkan biodiesel dengan kualitas stabil agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk operasional alsintan.
Sebagai implementasi di lapangan, BRMP melalui Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Mekanisasi Pertanian (BRMP Mektan) telah melakukan uji kinerja alsintan berbahan bakar B50 bekerja sama dengan LEMIGAS pada awal April 2026.