Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat kinerja ekspor komoditas unggas Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada 2026.
Dilansir dari laman
Kementan, produk ayam dan telur nasional kini semakin kompetitif di pasar global berkat surplus produksi dalam negeri serta perluasan pasar ekspor.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut capaian tersebut sebagai hasil keberhasilan Indonesia dalam mewujudkan swasembada protein hewani.
Baca Juga:
Kementan Apresiasi Percepatan Klaim AUTP Petani Terdampak Banjir di Lamongan"Sekarang ini kita sudah swasembada telur, ayam, beras, dan seterusnya. Nah ini kita dorong ekspor ke negara-negara lain," ujarnya.
Ia menambahkan, saat ini Indonesia telah memiliki sekitar 10 negara tujuan utama ekspor unggas yang menjadi pasar rutin produk nasional.
Berdasarkan data
Kementan, pada Maret 2026 Indonesia mengekspor 545 ton produk unggas dengan nilai mencapai Rp18,2 miliar. Negara tujuan utama meliputi Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
Dari total tersebut, ekspor didominasi telur konsumsi sebanyak 517 ton atau sekitar 8,13 juta butir, sementara sisanya berupa daging ayam dan produk olahan bernilai tambah. Kinerja ekspor unggas juga menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2024, volume ekspor tercatat sekitar 300 ton dengan nilai Rp10-11 miliar, kemudian meningkat menjadi sekitar 400 ton pada 2025 dengan nilai Rp13-15 miliar, hingga mencapai 545 ton pada Maret 2026.
Selain peningkatan volume, terjadi pergeseran struktur ekspor ke produk olahan seperti nugget dan karaage yang memberikan nilai tambah lebih tinggi bagi industri perunggasan nasional.
Peningkatan ini ditopang oleh produksi nasional yang masih mengalami surplus. Produksi daging ayam ras tercatat 4,29 juta ton dengan konsumsi 4,12 juta ton, sedangkan produksi telur ayam ras mencapai 6,54 juta ton dengan konsumsi 6,47 juta ton.