Medan (buseronline.com) - Pemerintah Kota Medan terus memperkuat upaya pencegahan stunting hingga tingkat kelurahan. Tidak hanya melalui program, langkah tersebut juga dilakukan dengan memastikan pendampingan terhadap keluarga berisiko berjalan secara langsung di tengah masyarakat.
Upaya itu terlihat dalam kegiatan monitoring pendampingan keluarga berisiko stunting oleh kader Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Kelurahan Bandar Selamat, Kecamatan
Medan Tembung, pada 7 Oktober 2026.
Monitoring yang dilakukan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pemberdayaan Masyarakat, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3APMP2KB) Kota Medan tersebut menyasar dua kelompok yang menjadi perhatian dalam pencegahan stunting, yakni bayi di bawah dua tahun (baduta) dan ibu hamil.
Kegiatan dipimpin Plt Kepala DP3APMP2KB Kota Medan Vianti Dewi Nasution yang diwakili Kepala Bidang Kesejahteraan Keluarga Elviyanti Pohan, didampingi Ketua TP PKK Kecamatan
Medan Tembung, Koordinator KB serta kader TPK.
Monitoring tersebut sejalan dengan visi dan misi Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas, khususnya dalam memperkuat program kesehatan masyarakat, termasuk pencegahan stunting dan perhatian terhadap tumbuh kembang anak.
Salah satu sasaran monitoring merupakan baduta berusia 1,4 tahun yang sebelumnya mengalami masalah berat badan kurang. Sebelum mendapatkan pendampingan, berat badan anak tercatat 7,5 kilogram dengan tinggi badan 65 sentimeter.
Setelah mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan, berat badan terakhir anak meningkat menjadi 7,9 kilogram, sedangkan tinggi badannya mencapai 78 sentimeter.
Meski berat badan anak sempat mengalami kenaikan dan penurunan dari bulan ke bulan, hasil monitoring menunjukkan adanya perkembangan positif setelah dilakukan pendampingan.
Dari sisi perkembangan, anak juga telah menunjukkan kemampuan yang sesuai dengan usianya, meski masih belum optimal. Karena itu, kader TPK terus memberikan edukasi kepada keluarga agar memperhatikan asupan makanan sekaligus memberikan stimulasi perkembangan secara rutin di rumah.
Orang tua dianjurkan memberikan makanan dengan menu yang beragam dan bergizi serta menghindari pemberian camilan atau makanan manis secara berlebihan.
Untuk mendukung perkembangan anak, keluarga juga diminta memberikan stimulasi sesuai tahapan usia. Panduan stimulasi dapat mengacu pada Kartu Kembang Anak (KKA), sehingga orang tua dapat mengetahui kemampuan yang perlu dilatih dan dipantau.
Selain baduta, monitoring juga dilakukan terhadap seorang ibu hamil berusia 42 tahun dengan usia kehamilan delapan bulan. Kehamilan pada usia tersebut menjadi salah satu faktor risiko karena usia ibu tergolong berisiko.
Sebelum mendapatkan pendampingan, ibu hamil tersebut diketahui mengalami anemia. Kondisi tersebut kemudian menjadi perhatian kader TPK dalam memberikan pendampingan dan edukasi.
Setelah mendapatkan edukasi mengenai pentingnya konsumsi makanan bergizi serta pemberian tablet tambah darah, kondisi ibu hamil tersebut menunjukkan perubahan. Setelah mendapatkan pendampingan, ibu hamil tersebut sudah tidak lagi mengalami anemia.
Kondisi ini sekaligus menunjukkan pentingnya pencegahan stunting sejak masa kehamilan. Pemenuhan gizi ibu, pola makan sehat, pemeriksaan kehamilan dan edukasi yang tepat menjadi bagian penting untuk memastikan ibu dan janin mendapatkan kondisi kesehatan yang optimal.
Upaya tersebut juga perlu dilanjutkan setelah bayi lahir, salah satunya melalui pemberian ASI eksklusif sebagai bagian dari penguatan program kesehatan keluarga.